_BERSUKACITALAH & MENURUTSERTAKAN DIRI UNTUK MENGHADIRKAN SERTA MEMPERTAHANKANNYA_

Thursday, March 11, 2010

KRISTUS: RAJA GEREJA

0 comments

YESUS KRISTUS; RAJA GEREJA
PEDOMAN BAGI PARA PEMIMPIN
I. PENDAHULUAN
Kepemimpinan tidak ubahnya perjalanan gerbong-gerbong kereta api dengan kepalanya (mesin : pemimpin) di atas rel yang tampak mengkwatirkan. Setiap gerbong akan mengikuti kemana arah kepala membawanya; dan rel adalah lintasan yang seakan-akan seperti pisau bermata dua, ia tampaknya membawa kepada tempat ”gelap” dan ”terang”. Seorang pemimpin dituntut fokus dan mau berkorban guna menjamin setiap ’gerbong’ tiba kepada tujuannya masing-masing dengan berjalan pada lintasan yang telah dipahami dan sepakati bersama.

II. ISI NATS (1 Tim. 6 : 11 – 16)
Dalam pembahasan Minggu sebelumnya kita sudah mengenal siapa Timotius dan latar belakang hadirnya surat Paulus kepadanya. Pada topik nats Minggu ini, tetap lewat nasehat surat pastoralnya, Paulus dalam pesan penutupnya kepada Timotius kembali berupaya mengingatkan sembari menguatkan Timotius untuk menyadari panggilan Allah atas hidupnya (ay. 11). Lewat ayat ini kita sekarang disadarkan kembali akan identitas kita sebagai milik Allah, untuk itu amat berbeda dengan ’manusia-manusia’ lainnya. Kebedaan inilah yang kemudian mengarahkan hidup kita kepada motivasi yang sesungguhnya sebagai seorang pemimpin. ”...kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan...”; Paulus menguraikan patron bagi kita untuk berlaku sebagai pemimpin.

Dalam 2 Timotius 2:5, Paulus menganalogikan keterpanggilan sebagai ’manusia Allah’ layaknya seorang olahragawan, yang memberikan diri untuk bertanding sesuai peraturan-peraturan yang telah ditetapkan guna memperoleh kemenangan yakni mahkota juara. Demikian juga kepemimpinan digambarkan Paulus sebagai sebuah pertandingan (ayat 12); maka bertandinglah di dalam iman bukan terjebak pada nafsu duniawi sehingga haus kekuasaan, kemewahan dan ketidakadilan. Dengan demikianlah kita berhasil untuk memenangkan mahkota juara yakni hidup yang kekal. Dan juga sebagai bukti dari ikrar keselamatan yang telah Yesus ikrarkan sebelumnya untuk penebusan kita dari maut (ayat 13).

Penegasian Paulus jelas menunjukkan semangat yang dalam atas pemanggilan Allah kepada manusia dan juga pengharapan akan kedatangan Kristus kembali (ayat 14). Paulus menunjunkkan karakter sesungguhnya dari kehidupan beriman; kesetiaan terhadap perintah yang telah ditetapkan sebagai ”rel” oleh Kristus bagi pemimpin Kristen. Hingga penyataan Kristus akan diriNya sebagai Raja atas kehidupan orang percaya (gereja-red) (ayat 15-16).

III. APLIKASI
Hari ini banyak orang percaya kepada Kristus yang menjadi pemimpin atas banyak orang; baik itu mulai dari pemerintahan tertinggi hingga yang paling rendah. Dan masih banyak juga yang mengharapkan bahkan dengan ambisi untuk menjadi pemimpin (mari kita lihat pilkada yang sebentar lagi berlangsung di daerah Toba Samosir). Namun yang ironi adalah tidak sedikit dari para pemimpin yang kemudian kehilangan pijakkan, ”rel” yang sesungguhnya untuk berlaku sebagai pemimpin. Banyak yang melupakan siapa yang memilihnya, yakni Kristus sebagai Raja Gereja (ayat 15-16), khususnya dalam kepemimpinan gereja hari ini. Yesus sebagai kepala gereja kerap terabaikan oleh karena kepentingan-kepentingan duniawi yang mejarah motivasi bertanding di dalam iman yang sesungguhnya di tengah gereja. Alhasil adalah berseraknya korban-korban dari kepemimpinan yang seperti ini; kemiskinan, kebodohan, pengangguran.

Di dalam gereja indikasinya dengan jelas dapat kita lihat; lesuhnya kehidupan beriman dalam sekop gereja dari warga jemaat, skandal, korup, eksodus besar-besaran warga jemaat ke gereja lain bahkan pindah agama (lihat saja maraknya aliran-aliran sekarang ini). Akhirnya, seperti illustrasi dalam pembukaan di atas; kepemimpinan itu layaknya perjalanan kereta api dengan gerbong-gerbong yang berisikan berbagai macam tujuan dari setiap penumpangnya. Pencapaian tujuan dapat terwujud hanya dengan jikalau kepala kereta selaku mesinnya berlaju di atas rel yang telah ditetapkan. Begitulah pemimpin, seyogyanya memimpin dengan berjalan pada ketetapan Allah (ayat 11-12), dan dengan rendah hati membiarkan diri untuk dipimpin oleh Kristus Yesus sebagai Raja Gereja. Memang tampak dilema, karena kita diperhadapkan pada kemewahan dunia dan kesederhanaan di dalam kasih Kristus. Sebab demikianlah kita dipanggil di dalam ikrar iman kita untuk menjadi identitas yang hadir secara beda atas dunia.
READ MORE - KRISTUS: RAJA GEREJA

KEPEMIMPINAN

2 comments

KEPEMIMPINAN: BELAJAR DARI TIMOTIUS
I. PENDAHULUAN
Menilik kepemimpinan sekarang, maka kita mendapati bahwa kekuasaan, kesenangan, dan kemakmuran adalah indikasi keberhasilan. Bukan berarti hal dimaksud adalah sesuatu yang salah, artinya kesuksesan kepemimpinan sejati sewajarnya diukur dengan perubahan positif yang dihasilkan dengan memberi kontribusi bagi kebaikan semua dalam sepektrum suatu kepemimpinan.

II. ISI NATS (1 Tim. 3 : 1 – 7)
Timotius adalah seorang Kristen yang masih muda di Asia Kecil, yang telah menjadi kawan dan pembantu Paulus dalam pekerjaan Paulus. Ayah Timotius seorang Yunani dan ibunya Yahudi. Dalam  Surat Paulus Yang Pertama Kepada Timotius, dibentangkan tiga  hal yang ada sangkut pautnya satu sama lain. Pertama-tama ialah peringatan kepada Timotius terhadap ajaran-ajaran salah yang terdapat di dalam jemaat. Ajaran-ajaran itu merupakan campuran faham Yahudi dan faham bukan Yahudi berdasarkan kepercayaan bahwa semesta alam sudah jahat, dan keselamatan hanya dapat diperoleh kalau orang mempunyai pengetahuan tentang rahasia tertentu, dan mentaati peraturan-peraturan seperti misalnya peraturan tidak boleh kawin,  pantang makanan-makanan tertentu dan lain sebagainya. Kedua, ialah petunjuk-petunjuk kepada Timotius mengenai pengurusan jemaat dan mengenai ibadat. Dijelaskan baginya sifat-sifat orang yang boleh menjadi penilik dan pembantu jemaat. Dan, ketiga Timotius diajar mengenai bagaimana ia dapat menjadi seorang hamba Yesus Kristus yang baik dan mengenai tanggung jawabnya terhadap setiap golongan orang yang menjadi anggota jemaat.

Perjanjian Baru, terutama surat-surat Timotius menyajikan dorongan pastoral Paulus kepada Timotius sebagai pemimpin jemaat Efesus yang bisa dijadikan pondasi hidup kepemimpinan, khususnya di tengah-tengah gereja (1 Tim. 3:1-7). Paulus memberi nasehat kepada Timotius terhadap para pemimpin jemaat untuk memiliki beberapa karakter kunci atas keberhasilan sebagai pemimpin atas jemaat.

Paulus menjelaskan kepada Timotius bahwa suatu kebahagiaan menjadi pemimpin (ay. 1) untuk itulah harta yang indah itu harus dipelihara dengan apapun resikonya. Meski dalam surat-surat pastoral, khususnya dalam Timotius, Paulus tidak memberikan otoritas institusif untuk memimpin gereja namun nasehat Paulus sangat berguna untuk diterapkan dalam kepemimpinan masa kini (ay. 2-7). Ditegaskan pula bahwa meskipun dalam surat Pastoral tidak dijelaskan secara langsung tentang adanya otoritas institusional, namun ada nilai-nilai sikap yang sangat menolong dalam seni kepemimpinan.

Paulus menantang jemaat Tuhan untuk menjadi pemimpin yang berbeda; ia tidak boleh menyerah dengan keadaan yang cenderung memaksa kita untuk menyelewengkan diri atas jabatan kita; ia harus tetap teguh hidup dalam kebenaran Firman Tuhan dan melakukan tugas dan tanggungjawab memimpin pelayanan sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Firman Tuhan dan menjaga dirinya untuk tetap menjadi teladan terhadap sesamanya.

III. APLIKASI
Secara khusus dalam kehidupan gereja, baik sebagai institusi maupun pribadi, memiliki tanggungjawab untuk memelihara dan mengembangkan kehidupan yang menjadi berkat di tengah masyarakatnya. Adapun tanggungjawab tersebut demikian merupakan relevansi gereja yang diuji pada kemampuannya dalam mengembangkan serta memelihara kehidupan, mampu menjadi berkat, mampu menjadi garam dan terang dunia.

Tantangan untuk mengembangkan dan memelihara kehidupan, menjadi berkat, mampu menjadi garam dan terang dunia ini menjadi tugas berat orang percaya. Tugas ini diperberat dengan tantangan yang muncul dari dalam maupun dari luar kekristenan. Munculnya gerakan dari organisasi-organisasi fundamentalis yang mengatasnamakan agama tertentu misalnya. Artinya, tantangan kekristenan untuk memelihara dan mengembangkan kehidupan, khususnya di tengah masyarakat Indonesia sangatlah komplek. Demikianlah maka, dibutuhkan kepemimpinan lewat pemimpin-pemimpin Kristen yang ideal; yang tetap hidup benar dan memelihara berita Injil yang telah diterimanya dengan konsekuensi logisnya.

IV. ILLUSTRASI
Seorang pemimpin layaknya alat penunjuk arah angin yang diletakkan di tempat strategis dan paling tinggi di bandara pesawat; menjadi tolok ukur dan panduan bagi navigasi bandara untuk mengizinkan si pilot pesawat lepas landas atau mendarat di landasan pacu; demikian seorang pemimpin dalam memimpin, merupakan patron bagi pengikutnya untuk mengambil keputusan dan melakukannya; hal ini berlaku dimana saja baik dalam keluarga, masyarakat, gereja dan negara.
READ MORE - KEPEMIMPINAN

KEMATIAN YESUS KRISTUS

0 comments

KEMATIAN YESUS

I.       PENDAHULUAN
A. Mengenai Lukas
Injil Lukas adalah kitab pertama dari kedua kitab yang dialamatkan kepada seorang bernama Teofilus (Luk 1:1,3; Kis 1:1). Walaupun nama penulis tidak dicantumkan dalam dua kitab tersebut, kesaksian yang bulat dari kekristenan mula-mula dan bukti kuat dari dalam kitab-kitab itu sendiri menunjukkan bahwa Lukaslah yang menulis kedua kitab itu. Waktu penulisan berkisar tahun 60-63. Lukas adalah seorang petobat Yunani, satu-satunya orang bukan Yahudi yang menulis sebuah kitab di dalam Alkitab. Roh Kudus mendorong dia untuk menulis kepada Teofilus (Teofilus: seorang yang mengasihi Allah) guna memenuhi suatu kebutuhan dalam jemaat yang terdiri dari orang bukan Yahudi. Suatu kisah yang lengkap mengenai permulaan kekristenan. Kisah ini terdiri atas dua bagian: kelahiran, kehidupan dan pelayanan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus (Injil Lukas); dan pencurahan Roh di Yerusalem dan perkembangan selanjutnya dari gereja mula-mula (Kitab Kisah Para Rasul). Kedua kitab ini merupakan lebih dari seperempat bagian dari seluruh PB.  

Ketika ia menulis Injilnya, gereja bukan Yahudi belum memiliki Injil yang lengkap atau yang tersebar luas mengenai Yesus. Matius menulis Injilnya pertama-tama bagi orang Yahudi; sedangkan Markus menulis sebuah Injil yang singkat bagi gereja di Roma. Orang percaya bukan Yahudi yang berbahasa Yunani memang memiliki kisah-kisah lisan mengenai Yesus yang diceritakan oleh para saksi mata, juga intisari tertulis yang pendek tetapi tidak suatu Injil yang lengkap dan sistematis (lih. Luk 1:1-4). Jadi, Lukas mulai menyelidiki segala peristiwa itu dengan saksama "dari asal mulanya" (Luk 1:3). Lukas mengerjakan penelitiannya di Palestina sementara Paulus berada di penjara Kaisarea (Kis 21:17; Kis 23:23--26:32), dan menyelesaikan Injilnya menjelang akhir masa itu atau segera setelah ia tiba di Roma bersama dengan Paulus (Kis 28:16).

Injil Lukas mulai dengan kisahan masa bayi yang paling lengkap (Luk 1:5--2:40) dan satu-satunya pandangan sekilas di dalam Injil-Injil mengenai masa pra remaja Yesus (Luk 2:41-52). Setelah menceritakan pelayanan Yohanes Pembaptis dan memberikan silsilah Yesus, Lukas membagi pelayanan Yesus ke dalam tiga bagian besar: pertama: pelayanan-Nya di Galilea dan sekitarnya (Luk 4:14--9:50); kedua: pelayanan-Nya pada perjalanan terakhir ke Yerusalem (Luk 9:51--19:27); dan ketiga: minggu terakhir-Nya di Yerusalem (Luk 19:28--24:43).

II.    ISI NATS (Lukas 23: 26-32)
Penjahat yang dijatuhi hukuman mati harus membawa sendiri salib yang berat itu ke tempat eksekusi. Begitulah Yesus melaksanakan proses hukumannya sebagai terdakwa penjahat atas hukum agama dan politik yang dikritisinya pada masaNya. Setelah pergumulan rohani yang berat di Taman Getsemani, tanpa sedikit pun waktu untuk tidur atau beristirahat, dan setelah semua penderitaan yang dialami di depan pengadilan Pilatus dan Herodes, Kehadiran Simon dari Kirene tidak terlepas dari ketidak berdayaan jasmani Yesus untuk memikul salib-Nya terus; maka Simon dipilih untuk membawa salib itu (ayat 26). Bdn. nubuatan Mikha, dia meratapi kebobrokan dalam masyarakat di mana dia hidup. Kekerasan, ketidakjujuran, dan kebejatan merajalela di kota itu. Sedikit sekali orang yang sungguh-sungguh saleh (ayat Mi 7:2), dan kasih keluarga nyaris tidak ada lagi (ayat Mi 7:6).

Perjalanan Yesus menuju Bukit Tengkorak diiringi tangis para pengikut-Nya (ayat 27). Namun di tengah penderitaan-Nya itu, Yesus menegur mereka agar tidak menangisi diri-Nya. Mereka seharusnya menangisi diri mereka sendiri karena Yerusalem kota tempat tinggal mereka, akan ditimpa kehancuran dahsyat sebagai akibat penolakan Israel terhadap kehadiranNya(ayat 28). Yesus bukan tidak berterima kasih atas simpati yang mereka tunjukkan, tetapi Dia ingin menyampaikan betapa parah malapetaka yang akan mereka alami. Begitu parahnya keadaan saat itu hingga seorang ibu mandul, yang oleh bangsa Israel dianggap kena kutuk, akan mensyukuri keadaannya sebab ia tidak perlu melihat penderitaan anaknya dalam masa sulit itu (ayat 29-30). Maka Yesus memberi perbandingan, jika Dia yang tidak bersalah saja diperlakukan begitu buruk oleh tentara Roma, apalagi bencana yang akan mereka alami nanti ketika keruntuhan Yerusalem tiba (ayat 31). Keadaan itu digambarkan Yesus layaknya “kayu hidup” dan “kayu kering”; yang berbuah dan yang tidak menghasilkan buah.  Itulah peringatan Yesus yang terakhir kalinya sebelum Dia meneruskan perjalanan menuju salib bersama dua orang kriminil lainnya.

III. APLIKASI
Ignatius yang berasal dari Syria, bishop dari Antiokhia, murid Rasul Yohanes,  yang hidup antara tahun 50-115 M, dalam perjalanannya dihukum mati sebagai martir dengan diadu dengan binatang buas, menulis tentang Kristus: "Dia disalibkan dan mati di bawah pemerintahan Pontius Pilatus. Dia benar-benar disalibkan dan mati di hadapan penghuni sorga, penghuni bumi dan bawah bumi…”. Apa arti kematian Yesus Kristus bagi manusia? Pertanyaan ini penting karena kematian Yesus bukanlah satu peristiwa umum di antara begitu banyak peristiwa kematian dalam sejarah umat manusia. Tentu saja ada orang yang beranggapan bahwa kematian Yesus tidak mempunyai signifikansi apa-apa. Atau, kalaupun ada, signifikansinya hanya bersifat teladan moral dari seorang pejuang dan guru moral yang berani mati demi memegang teguh pada prinsip dan pengajaranNya. Pandangan-pandangan demikian biasanya berangkat dari asumsi bahwa kematian Yesus tidak diikuti kemudian oleh kebangkitanNya. Namun kita percaya, sebagaimana disaksikan oleh Perjanjian Baru, Yesus bukan saja mengalami kematian. Namun, Dia juga dibangkitkan oleh Allah. Karena itu, kematian Yesus menemukan makna signifikansi baru. Tanpa kepercayaan kepada kenyataan kebangkitan Yesus, kematianNya memang akan menjadi satu peristiwa yang meaningless atau tak bermakna secara teologis.

Dalam terang kebangkitan Yesus tersebut, bagaimana kita dapat memaknai kematianNya? Sebenarnya banyak makna teologis dan implikasi spiritual yang dapat kita eksplorasi dari peristiwa kematian Yesus. Bahkan salib, simbol kematian Yesus itu, adalah jantung pengajaran dan spiritualitas Kristen. Kematian Yesus memiliki pelbagai makna diantaranya adalah substansial-soteriologis dan demonstratif-eksemplaris.

Kematian Yesus dapat kta pahami sebagai "korban", bukan dalam arti victim, tetapi sacrifice, pengorbanan. Dengan menggunakan istilah ini, Perjanjian Baru, khususnya kitab Ibrani, ingin mengungkapkan bahwa kematian Yesus adalah penggenapan terhadap bentuk-bentuk korban yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Dalam PL, banyak ritual persembahan korban, antara lain korban pendamaian, yang dilakukan oleh seorang Imam Besar. Kematian Yesus adalah korban yang sempurna dan dipersembahkan oleh seorang Imam Besar yang sempurna, yakni diriNya sendiri. (Ibrani 9: 11-12). Jadi, Yesus adalah Imam Besar yang datang kepada Allah dengan membawa korban dan korban itu adalah diriNya. Karena itu korban persembahan Yesus adalah korban yang sempurna. Dalam konteks inilah maka Paulus bicara mengenai kematian Yesus sebagai "jalan pendamaian"(Roma 3: 25) sebagaimana korban PL adalah suatu simbol jalan pendamaian manusia dan Allah.
Melalui kematian tersebut, tersedia suatu dasar ilahi bagi Allah untuk mengampuni manusia-manusia berdosa. Bagaimana Allah yang benar dan kudus dapat mengampuni manusia yang berdosa, sedangkan dosa adalah suatu kondisi dan tindakan manusia yang "melukai" kemuliaan Allah? Di sinilah letak jasa kematian Yesus. Yesus melalui kematianNya, membayar penuh "hutang-hutang" manusia yang telah mencederai kemuliaan Allah. "Ia mengampuni segala pelanggaran dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita (Kolose 2:13b-14). Bagaimana pengampunan itu dapat terjadi? Dalam konteks ini, kita perlu pahami bahwa bahwa pengampunan itu dimungkinkan oleh kematian Yesus sebagai kematian yang menggantikan kita (substitutionary). Seharusnya manusialah yang dihukum oleh keadilan Allah. Tetapi Yesus menggantikan manusia, memikul dosa manusia, dan menerima penghukuman tersebut, (bd. Gal 3:13). Dalam kematianNya Yesus mewakili umat manusia. Yesus adalah representasi manusia di hadapan Allah;” Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru" (Ibr. 9:15). Tetapi untuk mendapatkan bagian dalam perjanjian tersebut, untuk dapat menikmati "keterwakilan” kita di dalam kematian Yesus, kita perlu “berpartisipasi” suatu isitilah yang sering digunakan Paulus untuk menggambarkan "kesatuan spiritual" antara manusia dan Yesus Kristus, yang dapat diartikan sebagai percaya, menerima dan mendapat bagian dalam kematian dan kebangkitanNya (bnd Rom 6:6,8; 8:1).
Kematian Yesus adalah suatu demokrasi kasih Allah yang tertinggi kepada manusia. Makna demonstratif dan eksemplaris ini memang tidak boleh dilepaskan dari makna substansial yang disebutkan diatas, karena ada kecenderungan menjadikan kematian Yesus sebagai suatu teladan moral. Tetapi makna ini perlu dikaji karena memang kematian Yesus menjadi suatu "display" teragung dari kasih Allah kepada manusia, seperti yang dikatakan Paulus dalam Roma 5:8," Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa."(But God demonstrates his own love for us in this: While we wer still sinners, Christ died for us). Kita dapat sangat tergetar oleh kisah Abraham mempersembahkan Ishak, anak tunggalnya, kepada Allah di gunung Moria. Tetapi dalam praktek agama-agama lain pada waktu itu, persembahan demikian bukanlah sesuatu yang sangat luar biasa. Yang jauh lebih luar biasa dan tak terkatakan adalah kisah Allah yang mempersembahkan dirinya kepada manusia. Yesus bukan hanya seorang manusia. Tetapi Dia adalah Anak tunggal Allah. Bahkan lebih dari itu, Dia adalah Allah itu sendiri, Pribadi ke-2 dari Allah Tritunggal. Dan dia mati untuk manusia; bahwa Allah mati bagi manusia. Yohanes mengatakan "Allah adalah kasih,"(1 Yoh 4:8). Apakah yang paling jelas mendefinisikan pernyataan iman tersebut selain peristiwa salib? Yohanes sendiri menegaskan hal ini dalam ayat berikutnya."Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan ditengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus AnakNya yang tunggal ke dalam dunia supaya kita hidup olehNya."Dan setiap kali bertanya, apakah Allah mengasihi kita, apakah Dia memperhatikan kondisi hidup kita, kisah kematian Yesus kiranya dapat mendemonstrasikan kembali betapa Dia mengasihi kita.
Kristus telah wafat bagi kita agar kita dapat berperan sebagai anak-anak Allah yang efektif untuk membawa pembaharuan dalam kehidupan ini. Dengan demikian melalui kematian Kristus, karya keselamatan Allah secara esensial dan substansial telah memperdamaikan seluruh umat manusia dengan Allah dan sesamanya. Perenungan kita pada masa sengsara Yesus tak cukup hanya tentang kedahsyatan penderitaan yang Yesus pernah tanggung. Penderitaan Yesus seharusnya membangkitkan keinsafan tentang betapa lebih mengerikan penderitaan orang yang tidak hidup serasi dengan salib Yesus, karena tidak mungkin luput dari murka Allah. Oleh karena itu, nyatakanlah syukur kita terhadap pengorbanan-Nya dengan menyalibkan sifat dosa kita tiap saat.

IV. ILLUSTRASI
Kematian Yesus Kristus bisa diillustrasikan bagaikan tanaman gandum. Jika biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia akan tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Begitu juga dengan tanaman bunga splir; tanaman splir dapat berkembang banyak dan mengiasi taman rumah, jika biji-biji kecil yang ada di atas dedaunannya kemudian mati dan jatuh di atas tanah. Demikianlah, kematian Kristus bagi kita, kematian yang dimotivasi oleh inisiatif kasih terhadap manusia ciptaanNya; untuk memberikan kehidupan baru bagi kita.
READ MORE - KEMATIAN YESUS KRISTUS

KEBANGKITAN TUHAN YESUS

0 comments

KEBANGKITAN TUHAN YESUS
 DASAR MARTURIA GEREJA
I.              PENDAHULUAN
Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu," tulis Paulus dalam 1 Korintus 15:17. Bukti sejarah dan banyaknya hidup yang berubah telah menyaksikan bahwa kebangkitan Yesus adalah sebuah fakta. Kebangkitan Kristus lebih dari sekadar fakta sejarah itu adalah bukti penyelamatan kita. Jika kebangkitan bukan peristiwa sejarah, maka kuasa kematian tetap tidak dikalahkan; Kematian Kristus menjadi tidak ada artinya, dan umat yang percaya kepada-Nya tetap mati dalam dosa; Keadaannya akan tidak berbeda dengan sebelum mendengar nama-Nya. Kebangkitan Kristus merupakan suatu peristiwa yang terjadi di dalam dimensi ruang dan waktu sejarah manusia. Kebangkitan Kristus adalah peristiwa dalam sejarah, dimana Tuhan bekerja di dalam waktu dan ruang tertentu.
Injil Yohanes, khususnya dalam pasal 20:1-29 membahas mengenai kebangkitan Tuhan Yesus. Pasal 20 ini merupakan berita paling mendasar dalam Injil Yohanes yang mengambarkan bahwa Kristus datang untuk memberikan hidup yang kekal. Kematian tidak akan berkuasa atas Dia. Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa orang yang percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup yang kekal. Dalam pasal 20:19-29 membahas penampakan diri Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya, baik tanpa Tomas (Yoh. 20:19-23) maupun dengan Tomas (Yoh. 20:24-29) yang memberikan kesan atas dirinya sebagai orang yang tidak percaya. Rene Descartes mengatakan: “De Omnibus Dubitandum”, artinya segala sesuatu harus diragukan. Inilah kira-kira sikap hidup dari Tomas. Akan tetapi, baik Tomas akhirnya, maupun seluruh Perjanjian Baru mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan yang merupakan juga pondasi bagi misi (marturia-red) gereja.

II.           ISI NATS (Johanes 20: 24 – 29)
Secara keseluruhan mengisahkan peristiwa Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya, termasuk Tomas; Yesus melayani Tomas secara khusus, baik karena keperluan Tomas, maupun supaya suatu kebenaran yang penting dapat disampaikan kepada kita. Peristiwa ini tidak diceritakan dalam ketiga Injil Sinoptik.

Ayat 24: Yesus menampakkan diri kepada murid-muridNya, tanpa kehadiran Thomas. Beberapa pandangan menyebut bahwa kealpaan Thomas dalam persekutuan bersama murid-murid lainnya tidak terlepas dari kesedihan Thomas akan kematian Yesus; yang kemudian mengambil waktu untuk menyendiri.

Ayat 25: Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya, "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka, "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." Tomas menolak kesaksian mereka. Di situ dia salah, dan kesalahan itu penting dalam Injil Yohanes, yang ditulis sebagai kesaksian supaya orang-orang percaya! Kita sudah mengerti dari Matius 28:17; Lukas 24:11, 25, 38, 41; dan Markus 16:11 bahwa iman beberapa murid kurang kuat. Dalam peristiwa ini Tomas mewakili murid-murid yang mempunyai iman yang lemah. Tuntutan Tomas, bahwa ia harus melihat bekas paku pada tangan-Nya dan mencucukkan jarinya ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tangannya ke dalam lambung-Nya menggambarkan karakter khas dari orang Yahudi yang kerap mementingkan tanda.

Ayat 26: Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, "Damai sejahtera bagi kamu!" Adanya pertemuan-pertemuan yang lain tidak dijelaskan. Situasi ini mirip situasi pada hari Minggu yang lalu, tetapi Tomas bersama-sama dengan mereka. Munculnya Tuhan Yesus dan salam-Nya juga sama.

Ayat 27: Kemudian Ia berkata kepada Tomas, "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." Tuhan Yesus telah mendengar tuntutan Tomas, dan Dia mengajaknya untuk melakukan apa yang dituntut. Dia tidak berkeberatan dengan tuntutan Tomas. Dia siap sedia membuktikan diri-Nya pada seseorang yang tidak mudah diyakinkan. Tomas dituntut juga: jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah. Tomas (serta semua orang yang tidak mau menerima kesaksian lisan) ditegur oleh-Nya yang mengasihi Tomas dengan kasih yang telah dibuktikan di kayu salib.

Ayat 28: Tomas menjawab Dia, "Ya Tuhanku dan Allahku!" Tampaknya Tomas tidak perlu bukti yang dia tuntut! Kata-kata Tuhan Yesus pasti menusuk hati Tomas, karena Dia memakai kata-kata yang dipakai oleh Tomas dalam sikap tidak mau percaya. Pengakuan Tomas ini di beberapa kalangan ditolak oleh para sarjana yang tidak menganggap Alkitab sebagai Firman Allah. Menurut mereka, "evolusi teologi" belum diberi waktu yang cukup lama, sehingga "gereja primitif" belum siap mengucapkan pengakuan yang begitu "tinggi". Meskipun demikian, kita yang menganggap Alkitab sebagai Firman Allah tidak heran bahwa Tomas mengerti bahwa Tuhan Yesus, yang jelas telah mengalahkan maut, adalah Tuhan dan Allah. Dalam konteks ini istilah Tuhan tidak hanya berarti "tuan". Istilah ini dipakai dalam Septuaginta (terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) sebagai pengganti nama "Yahweh". Istilah Allah juga sangat jelas. Kita harus mengingat bahwa orang Yahudi hanya mempunyai satu Allah, dan tidak mengakui dewa-dewa. Tomas mengaku Yesus sebagai Allah Abraham, Isak, dan Yakub. Tomas menyembah Dia yang disembah oleh Raja Daud dalam Mazmur 35:23: "...ya Allahku dan Tuhanku!" Dengan demikian dia yang meragukan kesaksian teman-teman sampai memberikan tuntutan yang berlebihan berubah menjadi orang yang mengucapkan pengakuan yang luar biasa. Pemakaian kata ganti orang "-ku" dua kali dalam pengakuan ini menyatakan bahwa ini bukan hanya suatu pernyataan teologis atau liturgis, tetapi pengakuan ini bersifat sangat pribadi bagi Tomas. Dari segi struktur Injil Yohanes, kita mengamati bahwa pasal 1:1 berkata, "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah" dan pasal 1:18 berkata bahwa Firman itu menyatakan Allah. Apa yang dikatakan dalam pasal 1 telah menjadi nyata dalam pengalaman Tomas, agar yang tidak melihat Dia, diajak ikut percaya.

Ayat 29: Kata Yesus kepadanya, "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Tampaknya Dia tidak menegur Tomas, Dia senang bahwa Tomas telah percaya, tetapi Dia lebih senang lagi kalau orang siap percaya tanpa melihat. Tema ini mengedepankan iman, bahwa iman yang timbul karena orang melihat suatu keajaiban adalah baik, tetapi iman walaupun belum melihat adalah lebih baik lagi (bd. Yoh. 1:50; 2:23-25; 4:48; 6:26; 10:38; dan 14:11). Namun di antara semua ayat tersebut, ayat ini mengandung pernyataan yang paling jelas. Tema tersebut terkait erat dengan tema kesaksian (marturia), karena kesaksian dimaksudkan untuk menimbulkan iman bagi mereka yang tidak sempat melihat Tuhan Yesus. Tema kesaksian sangat penting dalam Injil Yohanes yang bertendensi pada pengutusan (Yoh. 20:21-31). Ucapan bahagia ini, sesuai dengan ucapan bahagia yang lain, menyatakan bahwa orang itu diterima oleh Allah, tetapi juga mempunyai suatu nada dorongan. Dalam ucapan bahagia ini mereka didorong supaya sungguh percaya, tanpa menuntut tanda seperti apa yang dituntut Tomas.  1 Petrus 1:8-9, berbunyi: "Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu." Kutipan ini serta Yoh. 20:29 mengingatkan kita bahwa keadaan rohani kita tidak kurang indah dibandingkan dengan keadaan rohani mereka yang melihat Dia. Hoskyns mengutip dari seorang rabi yang menulis sesuatu yang mirip ini pada tahun 250 M: "Seorang petobat lebih dihargai Allah daripada semua kaum Israel yang berdiri dekat Gunung Sinai. Andaikata mereka tidak melihat guntur dan api dan kilat dan gentaran gunung dan bunyi sangkakala maka mereka tidak menerima hukum Taurat ataupun menunduk pada Kerajaan Allah. Tetapi seorang petobat tidak melihat semua itu, namun dia datang dan menyerahkan dirinya kepada Allah dan menerima kuk kehendak Allah. Apakah ada orang yang lebih dihargai daripada orang seperti itu?"
Dari pernyataan akhir Yesus, "Berbahagiaiah mereka yang tidak melihat, namun percaya", menjadi sangat jelas pentingnya iman bagi mereka yang tidak pernah melihat Yesus yang bangkit. Iman yang sama dituntut untuk mereka yang mengaku pernah melihat Yesus yang bangkit. Dengan demikian, kebangkitan Yesus dipandang sebagai objek pengakuan iman untuk semua, baik yang pernah melihat maupun yang tidak pernah melihat Yesus yang bangkit. Berkat iman akan kebangkitan itu para murid mengakui Yesus sebagai Tuhan. Penunjukan "tangan dan lambung-Nya" kepada para murid (ay. 20) mempertegas hubungan Yesus yang tersalib dengan Yesus yang bangkit.

III.         KAJIAN TEOLOGIS
1) Kebangkitan Kristus adalah kebangkitan tubuh
Kebangkitan Kristus adalah sungguh-sungguh kebangkitan tubuh, bukan hanya satu kebangkitan roh atau rohani. Kalau kebangkitan Tuhan Yesus hanya kebangkitan rohani saja, tentu mayat-Nya akan ketinggalan dalam kubur itu. Tetapi ada bukti bahwa kubur itu kosong (Matius 28:6; Markus 16:6; Lukas 24:3,12; Yohanes 20:1,2). Kubur yang kosong itu disaksikan oleh sahabat-sahabat dan musuh-musuh-Nya; yaitu perempuan-perempuan, rasul-rasul, malaikat-malaikat dan prajurit-prajurit Romawi. Ada kebangkitan-kebangkitan lain dalam Alkitab yang sungguh-sungguh merupakan kebangkitan tubuh (Matius 9:18-26; Lukas 7:11-18; Yohanes 11:1-44). Kejadian-kejadian ini juga menunjukkan cara kebangkitan Tuhan Yesus, yaitu secara tubuh. Orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya mengenal Dia serta mengakui bahwa Dia mempunyai tubuh yang mereka kenal, yaitu tubuh-Nya yang dahulu. Lubang bekas paku-Nya masih ada (Yohanes 20:27; Lukas 24:37-39).

2) Oleh kebangkitan-Nya semua pengakuan Tuhan Yesus mengenai diri-Nya disahkan dan diteguhkan Tuhan Yesus "dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa" (Roma 1:4). Oleh sebab kebangkitan Kristus maka rasul-rasul mendapat bukti yang baru dan pengertian yang baru yang lebih jelas mengenai diri Tuhan Yesus dan pekerjaan-Nya. Kebangkitan itu telah mempersiapkan rasul-rasul untuk menerima wahyu yang lebih jelas yang diberikan melalui kedatangan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Lukas 24:45,49; Yohanes 20:22,23). Dengan kebangkitan Kristus Allah mengesahkan pekerjaan Kristus dan pengakuan Kristus atas diri-Nya; dan melalui kebangkitan itu tujuan dan maksud Kristus dijelaskan kepada rasul-rasul dan murid-murid-Nya. Dalam Matius 12:38-42 dan Yohanes 2:13-22 Tuhan Yesus mengalaskan kuasa-Nya dan kebenaran pelajaran-Nya atas kebangkitan-Nya.

3) Kebangkitan Yesus Kristus adalah batu penjuru iman kristiani. Tanpa itu, kita tak memiliki pengharapan di hidup ini, juga mengenai hidup yang akan datang. Itulah alasan betapa pentingnya mengenali bahwa kepercayaan kita pada kebangkitan Kristus tidak berdasar pada perasaan agamawi atau rumor yang tak berdasar. Kepercayaan kita berdasar pada fakta sejarah dengan bukti kuat yang mendukung. Sebagai fakta sejarah, Kebangkitan Kristus mendorong manusia untuk percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ini bukan sekedar pembicaraan mengenai pengaruh: karakter, contoh dan pengajaran-Nya. Ini mengenai tanggapan manusia terhadap-Nya. Siapa yang percaya kepada kebangkitan-Nya, kemudian mempercayai ketuhanan-Nya, kemudian percaya akan karya penebusan-Nya, kemudian percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, akan memperoleh penebusan dosa dan diselamatkan. Siapa yang menyangkal kebangkitan-Nya, secara langsung menyangkal ketuhanan-Nya dan menolak karya penebusan-Nya, tidak diselamatkan.

4) Kebangkitan Kristus merupakan alasan bagi persekutuan rohani yang baru.
Tuhan Yesus yang telah dibangkitkan dan dipermuliakan merupakan alasan bagi persekutuan rohani yang baru. Tuhan Yesus adalah Anak Sulung yang lebih utama dari segala yang diciptakan, dan yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati (Kolose 1:15,18,19). Dalam Mazmur 2:7 dan Kisah 13:33 Tuhan Allah bersabda, "Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini". Pada hari apakah Kristus diperanakkan oleh Allah? Tentu pada hari kebangkitan-Nya. Yesus Kristus telah menjadi Anak Sulung di antara banyak saudara (Roma 8:29). Oleh sebab itu kita yang telah percaya pada Dia dan telah dilahirkan kembali, dan beserta dengan Dia, telah menjadi suatu kaum yang baru, yaitu kita yang diangkat anak oleh karena Yesus Kristus (Efesus 1:5). Kaum yang baru itu mendapatkan persekutuan rohani yang baru juga (Efesus 4:24; Kolose 3:9,10). Persekutuan baru itu ada di dalam Jemaat Kristus, yaitu tubuh-Nya.

5) Konsekuensi Pertemuan dengan Yesus yang Bangkit. Pertemuan dengan Yesus yang bangkit melenyapkan ketakutan dan memberi sukacita. Para murid yang berkumpul di ruangan terkunci karena takut akan orang-orang Yahudi (ay. 19) mengalami sukacita ketika Yesus hadir di tengah-tengah me­reka dan mereka melihat Tuhan (ay. 20). Secara implisit, perubahan serupa dialami juga oleh Maria Magdalena yang menangis karena mayat Tuhannya telah diambil orang (ay. 13), tetapi pewahyuan Yesus yang bangkit telah memberinya sukacita, sebagaimana terungkap dalam reaksinya mau memegang kaki Yesus (ay. 17). Pertemuan dengan Yesus yang bangkit memberi damai sejahtera. Damai sejahtera itu tidak seperti yang diberikan oleh dunia, tetapi damai sejahtera yang melenyapkan kegelisahan dan kegentaran hati (Yoh 14:27), yang menghilangkan ketakutan (ay. 19), dan yang memberi sukacita (ay. 20). Pertemuan dengan Yesus yang bangkit memberi Roh Kudus (ay. 22). Yesus yang bangkit menghembusi para murid Roh Kudus yang memberi kehidupan baru, sebagaimana Allah menghembuskan napas hidup kepada manusia ciptaan-Nya (Kej 2:7). Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang karena Yesus belum dimuliakan" (Yoh 7:38-39). Pada saat kematian-Nya, Yesus menyerahkan nyawa-Nya (Yoh 19:30) dan air dan darah keluar dari lambung-Nya (Yoh 19:34), tetapi pada waktu kebangkitan-Nya, Yesus memberikan Roh Kudus kepada para murid-Nya (Yoh 20:22). Berkat penghembusan Ron itu damai sejahtera dan sukacita tinggal tetap bersama para murid. Berkat penghembusan Ron itu juga para murid ambil bagian dalam kuasa menyatakan karya Allah bagi banyak orang.

6) Pertemuan dengan Yesus yang bangkit mendatangkan tugas perutusan. Maria Magdalena setelah mengenal dan mengakui Yesus sebagai Guru (ay. 16) dan Tuhan (ay. 18) mendapat tugas perutusan untuk menyampaikan berita kepada para murid: "Pergilah kepada saudara-saudaraKu dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu" (ay. 17). Padawaktu penampakan di Cenaculum pun Yesus mengutus para murid: "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu" (ay. 21). Pengutusan itu juga bersangkutan dengan pengampunan dosa (ay. 23) sehingga para murid menerima Roh Kudus (ay. 22). Perubahan dari rasa takut menjadi damai dan sukacita karena Yesus yang bangkit berkat pengampunan dosa itulah yang harus diberitakan kepada orang lain. Dengan demikian, kebangkitan Yesus berlaku bagi semua orang, para murid dan orang-orang percaya sebagai sumber damai sejahtera, sukacita, dan penghiburan.

IV. APLIKASI
Di tengah bianglala tahun 2010, HKI secara umum menetapkan tahun ini menjadi tahun MARTURIA (kesaksian) dalam pelayanan gerejawinya. Thema tahun Marturia ini diambil dari Amanah Agung Yesus Kristus ”Pergilah jadikanlah semua bangsa muridKu dan ajarlah mereka (Matius 28: 19-20). Thema ini kemudian diterjemahkan lebih spesifikasi ”Masing-masing warga penuh HKI mengajak satu orang lagi mengikut Yesus dan mengajar mereka”.
Berhubungan dengan tekad pelayanan di atas, maka dibutuhkan daya untuk menunjang momentum ledakan dari pelaksanaannya bagi setiap warga HKI. Di sinilah KEBANGKITAN KRISTUS YESUS sudah seharusnya menjadi daya ledakan bagi implementasi motivasi pelayanan yang terfokus kepada kesaksian (penginjilan) baik ke dalam dan keluar lingkup HKI. Sama dengan para murid pada masa gereja mula-mula, kebangkitan Yesus menjadi batu penjuru bagi iman kristiani; tanpa itu, setiap orang percaya tentunya tidak memiliki pengharapan dalam hidupnya. Siapa yang percaya kepada kebangkitanNya, kemudian mempercayai ketuhananNya, kemudian percaya akan karya penebusanNya, kemudian percaya kepadaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat, akan memperoleh penebusan dosa dan diselamatkan, dan sebaliknya. Sebagai Anak Sulung, di dalam Kristus kita diarahkan kepada persekutuan rohani yang baru dengan sebuah tanggungjawab. Pertemuan dengan Yesus yang bangkit melenyapkan ketakutan dan memberi sukacita; untuk kemudian disiapkan dalam suatu perutusan memberitakan karya besarNya atas semua bangsa.
Demikianlah setiap warga HKI menghidupi kebangkitan Yesus sebagai momentum untuk menjadi saksi-saksi Kristus dalam setiap dimensi sosial masyarakat tanpa ada rasa ketakutan dan ragu; sebab Yesus telah menetapkan kita sebagai sumber damai, sukacita dan penghiburan bagi orang banyak.
READ MORE - KEBANGKITAN TUHAN YESUS

Tuesday, February 9, 2010

KEBEBASAN BERAGAMA

0 comments
Ada Apa dengan Kebebasan Beragama


Akhir-akhir ini, ramai dibicarakan tentang kebebasan beragama terkait judicial review terhadap UU No 1 Tahun 1965 tentang Larangan Penodaan Agama. Adalah kelompok pro demokrasi Indonesia yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan atau AKKBB yang mengajukan judicial review terhadap UU tersebut karena dinilai tidak lagi relevan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan sekaligus juga tidak sejalan dengan semangat konstitusional Indonesia.
Alih-alih jadi alat perlindungan bagi kelompok agama, yang terjadi justru sebaliknya. UU itu malah dijadikan alat pembenaran bagi perilaku penodaan, bahkan tindakan kekerasan dan penistaan terhadap kelompok agama tertentu. UU itu lebih banyak dipakai mendiskreditkan kelompok yang memiliki pemahaman berbeda dengan arus utama.
Meski telah ada jaminan dalam konstitusi dan sejumlah UU, seperti UU No 39/1999 tentang HAM dan UU No 12/2006 tentang Ratifikasi Kovenan Internasional mengenai Hak Sipil dan Politik, upaya perlindungan dan pemenuhan hak kebebasan beragama di Indonesia belum memperlihatkan kemajuan berarti.
Setidaknya ada tiga kendala, pertama, kebebasan beragama cenderung disalahpahami sebagai upaya menghilangkan identitas suatu agama atau menyamakan semua agama (nihilisme) atau upaya mencampuradukkan ajaran agama (sinkretisme). Akibatnya, gagasan kebebasan beragama menimbulkan ketakutan yang tidak beralasan.
Kedua, kebebasan beragama cenderung ditafsirkan sebagai gagasan kebebasan tanpa batas yang akan mengakibatkan konflik di masyarakat. Ketiga, kebebasan beragama cenderung dimaknai sebagai upaya penodaan terhadap agama yang ”sudah diakui”. Akibatnya, pendukung kebebasan beragama diberi stigma sebagai kelompok ”tak agamis”.
Sebetulnya tidak sedikit warga masyarakat menginginkan terpenuhinya hak kebebasan beragama, tetapi karena takut distigma sebagai ”tidak agamis” memilih diam supaya aman. Adanya silent majority ini sangat merugikan tatanan demokrasi kita sebab ruang publik lalu didominasi oleh kelompok yang lantang menyuarakan sikap antikebebasan beragama. Sikap yang berseberangan dengan visi demokratis, dan fatalnya dengan mengatasnamakan agama atau Tuhan.
Makna kebebasan
Istilah kebebasan beragama di dalam berbagai dokumen HAM tak berdiri sendiri, melainkan selalu dikaitkan dengan kebebasan lain, yaitu kebebasan berpikir dan berkesadaran atau berhati nurani. Pada konteks ini, hak kebebasan beragama bersifat mutlak, berada di dalam forum internum yang merupakan wujud dari inner freedom (freedom to be), dan itu termasuk hak non-derogable (tak bisa ditangguhkan pemenuhannya oleh negara dalam keadaan apa pun).
Adapun hak mengekspresikan ajaran agama atau keyakinan dalam kehidupan publik, misalnya menyebarkan ajaran agama dan mendirikan tempat ibadah, masuk dalam kategori hak bertindak (freedom to act). Hak ini dapat ditangguhkan atau dibatasi pemenuhannya. Akan tetapi, penangguhan atau pembatasan itu hanya boleh dilakukan dengan UU dan dengan alasan perlindungan atas lima hal, yaitu keselamatan publik, ketertiban publik, kesehatan publik, kesusilaan, dan perlindungan terhadap hak dan kebebasan orang lain. Jadi, tujuan utamanya, perlindungan secara adil terhadap semua kelompok agama.
Menarik dicatat bahwa semakin demokratis sebuah negara semakin berkurang UU yang membatasi kebebasan beragama. Namun, itu tak berarti telah ada kecenderungan melakukan dekriminalisasi terhadap penodaan agama. Yang terjadi adalah karena UU itu dianggap tidak relevan lagi dengan perkembangan masyarakat yang semakin menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
Secara normatif kebebasan beragama mengandung delapan unsur. Pertama, kebebasan bagi setiap orang menganut agama atau kepercayaan atas dasar pilihan bebas, termasuk bebas berpindah agama atau kepercayaan. Kedua, kebebasan memanifestasikan agama atau kepercayaan dalam bentuk ritual dan peribadatan. Ketiga, kebebasan dari segala bentuk pemaksaan. Keempat, kebebasan dari segala bentuk diskriminasi. Negara wajib menghormati dan menjamin kebebasan beragama atau berkepercayaan semua individu di dalam wilayah kekuasaannya tanpa membedakan suku, warna kulit, jenis kelamin, jender, pilihan politik, dan sebagainya.
Kelima, kebebasan yang mengakui hak orang tua atau wali. Negara berkewajiban menghormati kebebasan orang tua dan wali untuk menjamin bahwa pendidikan agama dan moral bagi anak-anak mereka adalah sesuai dengan pemahaman agama mereka. Keenam, kebebasan bagi setiap komunitas keagamaan untuk berorganisasi atau berserikat. Ketujuh, kebebasan bagi setiap orang untuk memanifestasikan ajaran agama hanya dapat dibatasi oleh UU. UU dibuat demi kepentingan melindungi keselamatan dan ketertiban publik, kesehatan atau kesusilaan umum atau hak-hak dasar orang lain. Kedelapan, negara menjamin pemenuhan hak kebebasan internal bagi setiap orang, dan itu bersifat non-derogability.
Kedelapan unsur jika diimplementasikan dengan baik dalam kehidupan masyarakat akan terwujud suasana damai penuh toleransi. Setiap komunitas agama akan menghormati komunitas lain, dan mereka dapat berkomunikasi dan bekerja sama dalam suasana saling pengertian, penuh cinta kasih. Dalam konteks Indonesia yang multi-agama, prinsip kebebasan beragama tak hanya mempunyai landasan pijak dalam konstitusi dan UU nasional, melainkan juga berakar kuat dalam tradisi berbagai agama dan kepercayaan yang hidup ribuan tahun di Nusantara.
Menjamin perdamaian
Hak kebebasan beragama selalu berpijak pada penghargaan dan penghormatan martabat manusia dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Karena itu, pemenuhan terhadap hak kebebasan beragama membawa kepada penghapusan segala bentuk penodaan dan penistaan terhadap kelompok agama, termasuk kelompok agama minoritas.
Yang terpenting, pemenuhan terhadap hak kebebasan beragama menjamin terciptanya toleransi dan perdamaian. Selanjutnya, perdamaian menjamin terwujudnya perlakuan setara dan sederajat bagi semua manusia, tanpa perbedaan. Perdamaian mendorong adanya tanggung jawab individual.
Kedepan dibutuhkan dua syarat bagi upaya pemenuhan hak kebebasan beragama. Pertama, setiap penganut atau kelompok agama harus memiliki kepercayaan diri yang kuat berdasarkan komitmen dan keyakinan kuat pada agama masing-masing. Ketiadaan rasa percaya diri melahirkan sikap kerdil, ketakutan, dan penuh prejudice. Kedua, para penegak hukum harus berani bersikap netral dan adil. Kedua sikap ini terbangun hanya jika mereka memahami secara utuh ajaran agamanya serta memiliki komitmen kuat pada nilai-nilai kebangsaan dan keindonesiaan.

reposting from:
READ MORE - KEBEBASAN BERAGAMA

Thursday, February 4, 2010

PREDESTINASI

0 comments

PREDESTINASI DALAM TEOLOGIA PAULUS
(Sekilas pandangan Paulus terhadap Predestinasi)
Beranjak dari suatu pertanyaan dalam facebook oleh rekan-rekan HKI Pulomas mengenai Predestinasi apakah diterima oleh HKI?
Maka, muncul kerinduan saya untuk berbagi wacana perihal pertanyaan di atas. Selaku gereja yang lahir dari gerakan reformis Luther, secara otomatis HKI jugalah mengikuti perkembangan teologia yang bersumber dari Alkitab. Mengenai predestinasi, istilah ini adalah istilah Alkitabiah yang kemudian digali lebih dalam oleh Paulus. Dan kemudian oleh Bapa-bapa Gereja, terkhusus pasca reformasi gereja tetap diikuti atau diteruskan. Namun, yang condong menerapkan predestinasi dalam ranah berteologinya adalah Bapa reformasi Calvin, yang kemudian dianut oleh gereja-gereja yang beraliran calvinis (GBKP, GKI dll). Sedangkan HKI adalah gereja yang menganut paham Lutheran dengan nilai-nilai berteologianya yang tertuju pada Sola gratia, Sola Scriptura dan Sola Fide. Lalu, apakah HKI menerima predestinasi? Menurut saya tidak ada alasan mendasar apalagi secara Alkitabiah HKI untuk menolaknya. Karena istilah predestinasi adalah ‘bahasa’ Alkitabiah yang jelas menguraikan maksud dan rencana Allah atas ciptaanNya. Dalam tulisan di bawah ini saya mau berbagi wacana teologia mengenai predestinasi untuk rekan-rekan, semoga bermanfaat. Shalom!
Secara literal predistinasi (proorizo: pro = sebelumnya; horizo = menentukan batas, menetapkan). Predistinasi artinya menentukan atau menetapkan dari semula, sebelumnya. Dalam pengertian teknis diartikan sebagai: tindakan memberi tanda sebelumnya dengan cara melingkari; menetapkan secara definitif sebelumnya; dan mentakdirkan sebelum­nya. Hasil dari tindakan tersebut merupakan penetapan definif, dan pemberian tanda, tidak dapat diubah atau dibatalkan.
Secara teologis, dalam pengertian luas, predestinasi menekankan bahwa Allah telah menentukan sebelumnya, segala sesuatu yang akan terjadi, yaitu semua rentetan peristiwa historis. Sedangkan dalam pengertian sempit predestinasi didefinisikan sebagai keputusan kekal Allah dalam menentukan di dalam diriNya sendiri, berdasarkan kehendak bebasNya, apa yang Dia akan lakukan pada setiap individu dari umat manusia. Dengan keputusan yang kekal dan tidak beruah-ubah itu, Allah telah menen­tukan atau menetapkan seluruh rangkaian proses penyelamatan, siapa yang akan menerima keselamatan, dan selanjutnya bagaimana memelihara mereka yang telah diselamatkan, dan juga Allah telah menetapkan siapa yang akan dibiarkan untuk binasa.
Konsep predestinasi Allah dapat dijelaskan secara sederhana demikian:
“Allah telah mempredestinasikan – menentukan Yesus untuk mengalami penderitaan demi menyelamatkan manusia. Allah mempredestinasikan juga semua orang pilihan untuk menerima keselamatan, agar mereka menjadi anak-anak Allah sesuai dengan suatu rencana yang telah ditetapkan oleh Allah sebelumnya. Allah telah mengenal mereka sejak semula, dan memilih mereka sejak semula. Allah juga telah mempersiapkan suatu Kerajaan bagi mereka. Untuk mereka yang menjadi pilihanNya, ke­putusan Allah itu berdasarkan rahmatNya yang cuma-­cuma tanpa mengindahkan sama sekali apakah manusia itu layak untuk menerimanya. Bagi orang-orang pilihan, panggilan itu adalah bukti tentang terpilihnya mereka. Sedangkan untuk mereka yang dibiarkan untuk binasa, Ia menutup jalan masuk ke kehidupan, dengan cara menutup pengetahuan tentang namaNya.
Kata predestinasi terdapat enam kali di dalam Perjanjian Baru. Pertama diungkapkan oleh Petrus dalam Kis. 4:28, dan sisanya lima (ditemukan di dalam surat-surat Paulus yaitu: Rom. 9:29, 30; 1 Kor. 2:7; dan Ef. 1:5, 11). Di dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia kata predestinasi diganti dengan ungkapan: menentukan dari semula. Tetapi, di dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris dan Yunani, kata predestinasi dipakai secara konsisten. Untuk lebih jelasnya, bagian dari ayat-ayat tentang predestinasi akan ditulis dan dibandingkan satu dengan yang lain:
1.      Kis. 4:28 – untuk melaksanakan, segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula. Inggris: predetermined, artinya: menetapkan sebelum­nya, mengodratkan. Yunani: proorisen, artinya: memberi tanda, merancang, mentakdirkan.
2.      Rom. 8:29 – sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula. Inggris: He also did predestinate artinya: mentakdirkan. Yunani: proorisen artinya menentukan batas, menetapkan.
3.      Rom. 8:30 – dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula. Inggris: whom he did predestinate. Yunani proorisen. Memiliki arti yang sama dengan istilah yang sebelumnya.
4.      1 Kor. 2:7 – rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. Inggris: which God ordained, artinya: yang Allah takdirkan, atau which God predetermined, artinya: yang Allah tetapkan sebelumnya, atau yang Allah kodratkan. Yunani: proorisen.
5.      Ef. 1:5 – Ia telah menentukan kita dari semula. Inggris: Having predestinated, artinya: Allah telah mempredestinasikan, atau mentakdirkan. Yunani: proorisen.
6.      Ef. 1:11 – kami yang dari semula ditentukan. Inggris: being predestinated, artinya: dipredestinasi­kan.
Ayat-ayat Alkitab di atas kiranya cukup untuk dijadikan alasan dan bukti bahwa: Kata predestinasi benar-benar bersumber dari Alkitab; Predestinasi murni adalah bahasa yang digunakan di dalam Alkitab untuk mengungkapkan tindakan kekal Allah; Makna predestinasi yang dimaksud oleh Paulus, ataupun yang dimaksud oleh Allah, sudah tentu sesuai dengan makna yang terkandung di dalam kata itu sendiri.
Paulus menghubungkan secara langsung sifat kedaulatan mutlak Allah dengan tindakan predestinasi Allah. Allah menyatakan kedaulatan mutlakNya atas semua ciptaanNya dengan cara melakukan tindakan predestinasi. Sudah disebutkan sebelumnya bahwa secara teologis, predestinasi menekankan penentuan atas semua peristiwa historis dan penentuan terhadap apa yang akan dilakukanNya terhadap setiap individu. Semua keputusan penentuan itu telah dilakukan sejak semula. Paulus lebih banyak membahas tindakan predestinasi Allah yang bersifat individual, yaitu ke­putusan kekal atau penentuan kekal dari Allah berkenaan dengan apa yang Dia akan lakukan terhadap setiap individu. Maksudnya bahwa sejak semula Allah telah menentukan sebagian orang untuk diselamatkan, dan juga sejak semua Ia telah membiarkan sebagian orang untuk menempuh jalannya sendiri menuju kepada kebinasaan.
Penenkanan Paulus pada predestinasi individual mau menyatakan bahwa hal menerima anugerah keselamatan atau menjadi anak-anak Tuhan merupakan rencana dan keputusan mutlak dari Allah. Rencana dan keputusan kekal Allah tersebut meliputi tiga hal penting yaitu: Siapa, secara individual yang akan me-
nerima anugerah keselamatan dan menjadi anak-anak Allah; Proses, bagaimana Allah membawa orang­-orang yang telah dipredestinasikan itu sampai kepada tahap menerima anugerah keselamatan dan menjadi anak-anak Tuhan; Sistem atau cara yang digunakan Allah untuk memelihara orang-orang yang telah beriman.
Dalam pengertian lain, tindakan predestinasi Allah didasarkan atas dorongan kasih dan kemurahan hati Allah, dan tidak berdasarkan atas kepantasan hidup seseorang. Prinsip ini diulangi oleh Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus: “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya” (Ef. 1:5). Oleh karena Allah memiliki kedaulatan mutlak, maka Allah bebas melakukan apa saja yang Dia kehendaki demi dan untuk kebaikan ciptaanNya, termasuk di dalamnya adalah predestinasi. Dan sebagai Allah yang berdaulat mutlak, Ia juga bebas merealisasikan semua ketetapan kehendak­Nya yang telah di rencanakan sejak semula, meskipun hal itu mungkin sangat kontradiktif dengan konsep kasih dan rasa keadilan manusia.

Bahan Bacaan:
- Berkhof Louis, Teologi Sistematika, Jakarta: LRI, 1993
- Burnot A., Paulus dan Pesannya, Jogjakarta: Kanisius, 1992
- Tandiassa, Teologia Paulus, Jogjakarta: MPH, 2008
- Feinberg, Predestinasi dan Kehendak Bebas, Jakarta: LRI, 1995
- Hayon Nikolas, Tema-tema Paulus, Flores – Nusa Indah, 1988
- Jacobs Tom, Paulus, Hidup dan Karya Teologianya, Jogjakarta: Kanisius, 1983

READ MORE - PREDESTINASI

Tuesday, January 26, 2010

SEKILAS SEJARAH KEHADIRAN GEREJA DI INDONESIA

0 comments

Sejarah Keberadaan Gereja Di Indonesia
Pertemuan Injil dengan Indonesia tidak dapat dilepaskan dengan perjalanan Injil itu sendiri. Hal ini tampak dalam perjalanan Injil dari Yerusalem, Yudea, dan Samaria sampai ke ujung bumi. Pada satu pihak ada perjalanan Injil ke arah barat dan juga perjalanan Injil ke arah Timur. Awal dari perjalanan Injil ke arah barat itu dapat ditelusuri dalam kitab Kisah Para Rasul. Sedangkan Perjalanan Injil ke arah timur tidak tercatat dalam Alkitab dan hanya diketahui lewat sejarah saja, meskipun catatan-catatan sejarah mengenai perjalanan Injil ke arah timur ini pun sangat sedikit. Ditambah lagi pula hasil perjalanan Injil ke arah timur kemudian hampir lenyap. Oleh sebab itu, perjalanan Injil ke arah timur ini hampir tidak diketahui dan hampir tidak dikenal di Indonesia.
Salah satu gereja yang terpenting sebagai hasil dari perjalanan Injil ke arah timur ini ialah Gereja Nestoriah. Gereja Nestoriah itu lama berpusat di Baghdad. Dari abad ke-6 sampai abad ke-13 Gereja Nestoriah telah menjalankan pekabaran Injil yang sangat luas sampai ke India dan Cina. Para penginjil dari Gereja Nestoriah itulah yang menerjemahkan Alkitab untuk pertama kali dalam bahasa Cina. Dalam suatu buku dalam bahasa Arab yang ditulis oleh Shaykh Abu Salih al-Armini dikatakan bahwa di Fansur (Barus), di pantai Barat Tapanuli, terdapat banyak Gereja Nestoriah. Ada petunjuk-petunjuk bahwa kaum Nestoriah telah hadir di Barus sejak tahun 645.[1]
Dalam abad ke-14 dan ke-15 Gereja Nestoriah itu praktis lenyap, walaupun sampai sekarang masih ada sisa-sisanya di Iran dan Irak. Gereja Nestoriah di Barus telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Para penginjil dari Gereja Nestoriah tidak pernah menerjemahkan Alkitab ke bahasa Melayu, yang pada abad ke-7 telah luas tersebar di kawasan Asia Tenggara. Dengan demikian kita lihat bahwa Injil telah tiba di Indonesia untuk pertama kali dalam rangka perjalanan Injil dari Yerusalem ke arah timur, lama sebelum Islam tiba di Indonesia. Tetapi kedatangan pertama Injil di Indonesia itu tidak meninggalkan bekas. Injil telah datang untuk kedua kali di Indonesia melalui jalan yang panjang, yaitu dari Yerusalem ke arah barat, ke Eropa, dan baru pada abad ke-16 Injil kembali ke Indonesia dari Eropa bersamaan waktu dengan kedatangan orang-orang Portugis, yang kemudian disusul oleh kedatangan orang-orang Belanda pada abad ke-17.[2]
Dalam hubungan itu baiklah kita baca Kisah Para Rasul 16:8-10. Di situ kita baca bahwa Rasul Paulus tidak memunyai rencana untuk membawa Injil dari Asia ke Eropa, yaitu ke Makedonia. Membawa Injil dari Asia ke Eropa bukan strategi Paulus, melainkan strategi Roh Yesus sendiri (Kisah Para Rasul 16:8). Sejarah dunia dan sejarah gereja akan lain sama sekali andaikata Injil tidak dibawa dari Asia ke Eropa, artinya ke dunia Barat. Pada waktu Injil tiba di Indonesia untuk pertama kali pada abad ke-7 dan untuk kedua kali dalam abad ke-16, Indonesia telah memunyai perkembangan yang menarik dari segi sejarah dan dari segi agama serta kebudayaan. Injil tidak tiba di Indonesia dalam keadaan yang "kosong" dari segi agama dan kebudayaan. Dapat kita catat adanya beberapa "lapisan" dalam sejarah keagamaan dan kebudayaan kita sehingga Indonesia dapat kita lihat sebagai suatu kue lapis yang memperlihatkan lapisan-lapisan keagamaan dan kebudayaan yang memunyai coraknya masing-masing.
Dari keterangan di atas kemudian dapat ditelusuri bahwa pada umumnya masyarakat Indonesia termasuk para sejarawannya, demikian pula dengan gereja ber­pendapat bahwa Injil baru masuk ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan bangsa Portugis di awal abad ke-16. Bagi kalangan Kristen Protestan hal ini diperkuat dengan tulisan DR. Th. Malin Krueger dalam buku standar tentang Sejarah Gereja di Indonesia, yang mengatakan bahwa tidak didapati sedikit pun bekas Pekabaran Injil di Indonesia, dan tidak terdapat seorang Kristen pun di Indonesia sebelum kedatangan bangsa Portugis sebab merekalah yang pertama-tama menyiarkan Agama Kristen di Indonesia.
Meskipun penelitian yang lebih seksama dengan menggunakan sumber-sumber tulisan yang lebih kuno di Timur Tengah, membuktikan hal yang sebaliknya. Bermula dengan memuncaknya pertentangan antara Gereja Barat dengan Gereja Timur yang berakibat terpisahnya gereja, maka Gereja Timur berdiri sendiri dengan pimpinannya seorang uskup di Persia dengan memakai gelar Ketholikos, di tahun 410.[3] Gereja ini kemudian dikenal sebagai Gereja Khaldea, atau Gereja Syria Timur. Gereja ini adalah pengikut ajaran Nestorius, sehingga juga dikenal sebagai gereja Nestorian (Nestorian, Nusthuri/Nasathariah). Sampai sekitar abad ke-13, pusat gereja ini berkedudukan di Baghdad dan wilayah wewenang pelayanannya meliputi Cyprus, Irak, Iran, Manchuria, Mongolia, India, Sri Lanka, Sumatera dan Jawa.
Dalam sebuah naskah kuno tulisan Shaykh Abu Salih al-Armini, terdapat daftar dari 707 gereja dan 181 biara yang tersebar dimana-mana, yang termasuk dalam wilayah pelayanan provinsi Mesir, di antaranya termasuk Indonesia. Dalam naskah itu disebut Fansur yang disebut terdapat banyak gereja dan biara. Fansur atau Pancur adalah kota pelabuhan di Sumatera Utara, yang terletak di dekat kota Barus yang waktu itu sangat ramai sebagai kota pelabuhan perdagangan kapur barus, hal ini dicatat di sekitar abad ke 7. Berita kemudian yang masih menyebut adanya gereja di Sumatera ditulis oleh Metropolit Gereja Suriah Timur yang bertugas antara tahun 1291-1319, yang mencantumkan keuskupan agung Dabhagh (Sumatera).
Sumber lain yang menyebut masih adanya gereja dan orang Kristen di Indonesia, adalah catatan perjalanan Uskup Joa de Marignoli OFM, Duta Besar Paus Clemens VI di Peking, yang pernah berkunjung ke Sumatera (Kerajaan Sriwijaya) dan masih sempat melayani orang-orang Kristen di sana pada tahun 1346. Hingga akhirnya jejak dari masa kekristenan pada awal masuk ke Indonesia hilang dan tidak lagi diketahui proses perkembangannya. Apa yang terjadi dengan orang Kristen masa itu masih belum jelas, namun suatu penggalian yang diadakan di tahun 1610 di Malaka, menemukan puing-puing gereja dengan hiasan salib bergaya Khaldea.[4]
Di Abad XVI terjadi perubahan besar di dunia politik dan perdagangan yang ditandai dengan ditemukannya jalan laut ke Asia oleh Eropa. Dimulailah perjalanan ekspedisi besar-besaran yang ditandai dengan berhasilnya Portugis merebut Malaka di tahun 1511, sebuah kota yang menjadi pusat per­dagangan di Nusantara.[5] Dari sini mereka mengirim armadanya dan berhasil menguasai wilayah Maluku, sumber rempah-rempah sebagai komoditi perdagangan yang bernilai jual tinggi waktu itu. Sementara itu Kerajaan Majapahit mulai kehilangan kekuasaannya. Kerajaan-kerajaan pantai di Sumatera mulai menyatakan diri berdiri sendiri, juga di Jawa, kerajaan-kerajaan terutama di kota-kota pelabuhan semakin berani untuk melepaskan diri dari Majapahit. Perkembangan ini berjalan seiring dengan semakin luasnya pengaruh Islam yang berkembang dengan pesat pada abad ke-15 hingga ke-16.
Terkait dengan penyebaran Agama Katolik dimulai bersamaan dengan datangnya bangsa portugis setelah berhasil menguasai Malaka yang waktu itu memegang peranan penting perdagangan, yang kemudian dijadikan pusat kegiatan misi. Pada tahun 1555 diresmikanlah keuskupan Malaka yang mencakup Indonesia. Penyebaran Agama Katolik ter­utama di kalangan rakyat yang menganut kepercayaan lama. Sesuai dengan prinsip Kerajaan Ka­tolik waktu itu, maka pekerjaan misi didukung dan dibiayai sepenuhnya oleh Negara dimana hal ini dipercayakan oleh Paus kepada Raja.[6] Namun, di tahap pertama ini tidak nampak pekerjaan misi yang cukup terarah, karena terlalu tergantung pada perkembangan penguasa Portugis. Pekerjaan misi yang sungguh baru terjadi adalah dengan kedatangan Fransiskus Xaverius di tahun 1546 sampai 1547.[7] Sehingga pekerjaan misi kemudian mencapai Sulawesi Utara, beberapa tempat di Jawa khususnya di daerah yang masih ada pengaruh Hindu, dan Kalimantan.
Peristiwa penting dalam sejarah politik di Asia Tenggara pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 adalah terjadinya peralihan kekuasaan kolonial, dari Portugis kepada pihak Belanda.[8] Tujuannya tetap sama untuk menguasai daerah sumber bahan perdagangan. Sebab itu penguasaan daerah jajahan itu dilaksanakan melalui suatu badan perdagangan yang di­sebut VOC (Verenigde Osstindiesche Compagnie), yang mendapat hak monopoli dari pe­merintahnya di negeri Belanda, termasuk hak memiliki tentara sendiri, mencetak uang sendi­ri, mengambil keputusan untuk berperang serta mengadakan perjanjian.
Pada mulanya VOC hanya memerlukan pelayanan rohani untuk melayani orang-­orang mereka sendiri. Kemudian mereka diperhadapkan dengan soal baru, setelah melihat bahwa ada orang-orang Kristen Indonesia peninggalan Misi Katolik. Jumlah orang Katolik di Maluku, Sulawesi Utara, Pulau Siau dan Sangir disebut sekitar 40.000 jiwa. Menurut pemikiran waktu itu, maka adalah hak dan kewajiban VOC untuk membuat orang Katolik itu menjadi Protestan, sesuai dengan agama yang dianut oleh penguasa. Tentu ada juga latar belakang politik, sebab VOC khawatir jika mereka tetap dibiarkan Katolik sekali waktu mereka dapat mengundang lagi Portugis atau Spanyol. Selanjutnya antara tahun 1708-1771 (selama 63 tahun), jumlah orang Indonesia yang dibaptis ber­jumlah 43.748 jiwa, di antaranya hanya 1.205 yang boleh ikut perayaan Perjamuan Kudus. Maka, bila diperhitungkan jumlah orang Katolik yang ditinggalkan oleh Misi Portugis se­banyak 40.000 jiwa, maka pada dasarnya di masa VOC dapat dikatakan gereja sama sekali tidak berkembang secara signifikan dan berarti.[9]
Babak berikut yang sangat berarti dalam sejarah penyebaran Injil di Indonesia adalah dengan berakhirnya keberadaan VOC setelah berkuasa selama 200 tahun tepatnya pada 1799. Pemerintah Belanda yang akhirnya melanjutkan penguasaannya di Indonesia, namun tidak melihat dirinya sebagai “penguasa Kristen”, melainkan suatu pemerintah sekuler. Terhadap masalah keagamaan, pemerintah Belanda bersikap netral. Di bawah Gubernur Jenderal Daendels, diproklamasikanlah kebebasan agama yang berarti juga berakhirnya monopoli Kristen Calvinis, dan kebebasan bagi Gereja Lutheran. Sedangkan Katolik mendapat ijin kembali untuk mengadakan pekerjaan misi dan mendatangkan Imam ke Indonesia. Begitu juga dengan Islam secara resmi disokong untuk menunaikan ibadah Haji ke Mekkah sebagai salah satu wujud hukum Islam yang harus dipenuhi, Lembaga-lembaga Pekabaran Injil diperbolehkan secara bebas masuk ke Indonesia.[10]



[1] Bnd. T.B. Simatupang, Tantangan Gereja di Indonesia, Jakarta: YAKIN, n.t., hlm. 1-5.
[2] Ibid., hlm. 6-10
[3] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2004, hlm. 56-57. Dalam hal ini konsentrasi pokok pecahnya gereja berawal dari adanya perbedaan paham mengenai tabiat Yesus Kristus.
[4] Fridolin Ukur, Buku Makalah; Seminar Pertumbuhan Gereja 1989, Jakarta: SPG’89, 1990, hlm. 3-5 Bnd. Juga dengan Th.van den End, Harta Dalam Bejana, Jakarta: BPK-GM, 2004, hlm. 87-94. Dijelaskan bahwasanya gereja Nestorian juga sempat menguasi pekabaran Injil di Asia mulai dari abad ke-4 hingga ke-14. dan berakhir setelah ditimpa oleh beberapa peristiwa besar khususnya dengan bangkitnya bangsa Mongol yang tidak dapat dikristenkan malah memeluk agama Islam atau Buddha, begitu juga dengan Asia Tengah  dimana beberapa suku yang telah menganut agama Kristen akhirnya beralih ke Islam dan damapak perang Timur Lenk yang membunuh berjuta-juta orang Kristen di daerah ini sehingga berdampak pada terhapusnya kekristenan di Semenanjung Arabia.
[5] Th. Van den End, Ragi Carita I, Jakarta: BPK-GM, 1987, hlm. 22 dan 239. Keberhasilan ini tidak terlepas dari berhasilnya Potugis oleh Vasco da Gama menemukan jalan laut ke Asia pada tahun 1498 dan merebut Goa pada tahun 1510 dan dijadikan pusat kegiatan Portugis di Asia. Bnd. Th.van den End, Harta Dalam Bejana, Op.Cit., hlm. 205. Dalam hal ini “Perjanjian Tordesillas” pada tahun 1494 menjadi bagian terpenting dari ekspedisi yang dilakukan oleh Portugis. Dimana lewat perjanjian tersebut Spanyol dan Portugis membagi dunia menjadi dua bahagian Barat untuk Spanyol dan Timur untuk Portugis.    
[6] Anne Ruck, Sejarah Gereja Asia, Jakarta: BPK-GM, 2005, hlm. 97. Dengan kata lain raja menjadi spnsor gereja yang dikenal dengan system “padoado” yang berarti pelindung atau penyokong
[7] Ibid., hlm. 98. Xaverius yang dilahirkan di pegunungan Baskis, Spanyol Utara pada tahun 1506 adalah salah satu tokoh bersama dengan Ignatius Loyola yang telah berhasil mendirikan Ordo Yesuit. Memberikan kasih sayang  adalah metode Xaverius dalam pekerjaan pekabaran Injil sehingga menjadi kunci keberhasilannya dalam menyiarkan agama Katolik.
[8] Th. Van den End, Ragi Carita I, Op.Cit., hlm. 59
[9] Fridolin Ukur, Op.Cit., hlm. 7
[10] Th. Van den End & J. Weitjens, Ragi Carita II, Jakarta: BPK-GM, 2003, hlm. 47. Namun, bersamaan dengan itu, demi kepentingan politik dengan menggunakan alasan rust en orde (ketertiban dan keamanan) diadakanlah ketentuan yang membatasi kebebasan Agama Kristen, seperti tertutupnya beberapa daerah bagi pekabaran Injil. Bahkan ada beberapa daerah yang diperbolehkan mengadakan Pekabaran Injil setelah dan di permulaan abad ke-20 (tahun1904).
READ MORE - SEKILAS SEJARAH KEHADIRAN GEREJA DI INDONESIA

ketertarikan para sobat