_BERSUKACITALAH & MENURUTSERTAKAN DIRI UNTUK MENGHADIRKAN SERTA MEMPERTAHANKANNYA_

Tuesday, February 9, 2010

KEBEBASAN BERAGAMA

0 comments
Ada Apa dengan Kebebasan Beragama


Akhir-akhir ini, ramai dibicarakan tentang kebebasan beragama terkait judicial review terhadap UU No 1 Tahun 1965 tentang Larangan Penodaan Agama. Adalah kelompok pro demokrasi Indonesia yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan atau AKKBB yang mengajukan judicial review terhadap UU tersebut karena dinilai tidak lagi relevan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan sekaligus juga tidak sejalan dengan semangat konstitusional Indonesia.
Alih-alih jadi alat perlindungan bagi kelompok agama, yang terjadi justru sebaliknya. UU itu malah dijadikan alat pembenaran bagi perilaku penodaan, bahkan tindakan kekerasan dan penistaan terhadap kelompok agama tertentu. UU itu lebih banyak dipakai mendiskreditkan kelompok yang memiliki pemahaman berbeda dengan arus utama.
Meski telah ada jaminan dalam konstitusi dan sejumlah UU, seperti UU No 39/1999 tentang HAM dan UU No 12/2006 tentang Ratifikasi Kovenan Internasional mengenai Hak Sipil dan Politik, upaya perlindungan dan pemenuhan hak kebebasan beragama di Indonesia belum memperlihatkan kemajuan berarti.
Setidaknya ada tiga kendala, pertama, kebebasan beragama cenderung disalahpahami sebagai upaya menghilangkan identitas suatu agama atau menyamakan semua agama (nihilisme) atau upaya mencampuradukkan ajaran agama (sinkretisme). Akibatnya, gagasan kebebasan beragama menimbulkan ketakutan yang tidak beralasan.
Kedua, kebebasan beragama cenderung ditafsirkan sebagai gagasan kebebasan tanpa batas yang akan mengakibatkan konflik di masyarakat. Ketiga, kebebasan beragama cenderung dimaknai sebagai upaya penodaan terhadap agama yang ”sudah diakui”. Akibatnya, pendukung kebebasan beragama diberi stigma sebagai kelompok ”tak agamis”.
Sebetulnya tidak sedikit warga masyarakat menginginkan terpenuhinya hak kebebasan beragama, tetapi karena takut distigma sebagai ”tidak agamis” memilih diam supaya aman. Adanya silent majority ini sangat merugikan tatanan demokrasi kita sebab ruang publik lalu didominasi oleh kelompok yang lantang menyuarakan sikap antikebebasan beragama. Sikap yang berseberangan dengan visi demokratis, dan fatalnya dengan mengatasnamakan agama atau Tuhan.
Makna kebebasan
Istilah kebebasan beragama di dalam berbagai dokumen HAM tak berdiri sendiri, melainkan selalu dikaitkan dengan kebebasan lain, yaitu kebebasan berpikir dan berkesadaran atau berhati nurani. Pada konteks ini, hak kebebasan beragama bersifat mutlak, berada di dalam forum internum yang merupakan wujud dari inner freedom (freedom to be), dan itu termasuk hak non-derogable (tak bisa ditangguhkan pemenuhannya oleh negara dalam keadaan apa pun).
Adapun hak mengekspresikan ajaran agama atau keyakinan dalam kehidupan publik, misalnya menyebarkan ajaran agama dan mendirikan tempat ibadah, masuk dalam kategori hak bertindak (freedom to act). Hak ini dapat ditangguhkan atau dibatasi pemenuhannya. Akan tetapi, penangguhan atau pembatasan itu hanya boleh dilakukan dengan UU dan dengan alasan perlindungan atas lima hal, yaitu keselamatan publik, ketertiban publik, kesehatan publik, kesusilaan, dan perlindungan terhadap hak dan kebebasan orang lain. Jadi, tujuan utamanya, perlindungan secara adil terhadap semua kelompok agama.
Menarik dicatat bahwa semakin demokratis sebuah negara semakin berkurang UU yang membatasi kebebasan beragama. Namun, itu tak berarti telah ada kecenderungan melakukan dekriminalisasi terhadap penodaan agama. Yang terjadi adalah karena UU itu dianggap tidak relevan lagi dengan perkembangan masyarakat yang semakin menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
Secara normatif kebebasan beragama mengandung delapan unsur. Pertama, kebebasan bagi setiap orang menganut agama atau kepercayaan atas dasar pilihan bebas, termasuk bebas berpindah agama atau kepercayaan. Kedua, kebebasan memanifestasikan agama atau kepercayaan dalam bentuk ritual dan peribadatan. Ketiga, kebebasan dari segala bentuk pemaksaan. Keempat, kebebasan dari segala bentuk diskriminasi. Negara wajib menghormati dan menjamin kebebasan beragama atau berkepercayaan semua individu di dalam wilayah kekuasaannya tanpa membedakan suku, warna kulit, jenis kelamin, jender, pilihan politik, dan sebagainya.
Kelima, kebebasan yang mengakui hak orang tua atau wali. Negara berkewajiban menghormati kebebasan orang tua dan wali untuk menjamin bahwa pendidikan agama dan moral bagi anak-anak mereka adalah sesuai dengan pemahaman agama mereka. Keenam, kebebasan bagi setiap komunitas keagamaan untuk berorganisasi atau berserikat. Ketujuh, kebebasan bagi setiap orang untuk memanifestasikan ajaran agama hanya dapat dibatasi oleh UU. UU dibuat demi kepentingan melindungi keselamatan dan ketertiban publik, kesehatan atau kesusilaan umum atau hak-hak dasar orang lain. Kedelapan, negara menjamin pemenuhan hak kebebasan internal bagi setiap orang, dan itu bersifat non-derogability.
Kedelapan unsur jika diimplementasikan dengan baik dalam kehidupan masyarakat akan terwujud suasana damai penuh toleransi. Setiap komunitas agama akan menghormati komunitas lain, dan mereka dapat berkomunikasi dan bekerja sama dalam suasana saling pengertian, penuh cinta kasih. Dalam konteks Indonesia yang multi-agama, prinsip kebebasan beragama tak hanya mempunyai landasan pijak dalam konstitusi dan UU nasional, melainkan juga berakar kuat dalam tradisi berbagai agama dan kepercayaan yang hidup ribuan tahun di Nusantara.
Menjamin perdamaian
Hak kebebasan beragama selalu berpijak pada penghargaan dan penghormatan martabat manusia dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Karena itu, pemenuhan terhadap hak kebebasan beragama membawa kepada penghapusan segala bentuk penodaan dan penistaan terhadap kelompok agama, termasuk kelompok agama minoritas.
Yang terpenting, pemenuhan terhadap hak kebebasan beragama menjamin terciptanya toleransi dan perdamaian. Selanjutnya, perdamaian menjamin terwujudnya perlakuan setara dan sederajat bagi semua manusia, tanpa perbedaan. Perdamaian mendorong adanya tanggung jawab individual.
Kedepan dibutuhkan dua syarat bagi upaya pemenuhan hak kebebasan beragama. Pertama, setiap penganut atau kelompok agama harus memiliki kepercayaan diri yang kuat berdasarkan komitmen dan keyakinan kuat pada agama masing-masing. Ketiadaan rasa percaya diri melahirkan sikap kerdil, ketakutan, dan penuh prejudice. Kedua, para penegak hukum harus berani bersikap netral dan adil. Kedua sikap ini terbangun hanya jika mereka memahami secara utuh ajaran agamanya serta memiliki komitmen kuat pada nilai-nilai kebangsaan dan keindonesiaan.

reposting from:
READ MORE - KEBEBASAN BERAGAMA

Thursday, February 4, 2010

PREDESTINASI

0 comments

PREDESTINASI DALAM TEOLOGIA PAULUS
(Sekilas pandangan Paulus terhadap Predestinasi)
Beranjak dari suatu pertanyaan dalam facebook oleh rekan-rekan HKI Pulomas mengenai Predestinasi apakah diterima oleh HKI?
Maka, muncul kerinduan saya untuk berbagi wacana perihal pertanyaan di atas. Selaku gereja yang lahir dari gerakan reformis Luther, secara otomatis HKI jugalah mengikuti perkembangan teologia yang bersumber dari Alkitab. Mengenai predestinasi, istilah ini adalah istilah Alkitabiah yang kemudian digali lebih dalam oleh Paulus. Dan kemudian oleh Bapa-bapa Gereja, terkhusus pasca reformasi gereja tetap diikuti atau diteruskan. Namun, yang condong menerapkan predestinasi dalam ranah berteologinya adalah Bapa reformasi Calvin, yang kemudian dianut oleh gereja-gereja yang beraliran calvinis (GBKP, GKI dll). Sedangkan HKI adalah gereja yang menganut paham Lutheran dengan nilai-nilai berteologianya yang tertuju pada Sola gratia, Sola Scriptura dan Sola Fide. Lalu, apakah HKI menerima predestinasi? Menurut saya tidak ada alasan mendasar apalagi secara Alkitabiah HKI untuk menolaknya. Karena istilah predestinasi adalah ‘bahasa’ Alkitabiah yang jelas menguraikan maksud dan rencana Allah atas ciptaanNya. Dalam tulisan di bawah ini saya mau berbagi wacana teologia mengenai predestinasi untuk rekan-rekan, semoga bermanfaat. Shalom!
Secara literal predistinasi (proorizo: pro = sebelumnya; horizo = menentukan batas, menetapkan). Predistinasi artinya menentukan atau menetapkan dari semula, sebelumnya. Dalam pengertian teknis diartikan sebagai: tindakan memberi tanda sebelumnya dengan cara melingkari; menetapkan secara definitif sebelumnya; dan mentakdirkan sebelum­nya. Hasil dari tindakan tersebut merupakan penetapan definif, dan pemberian tanda, tidak dapat diubah atau dibatalkan.
Secara teologis, dalam pengertian luas, predestinasi menekankan bahwa Allah telah menentukan sebelumnya, segala sesuatu yang akan terjadi, yaitu semua rentetan peristiwa historis. Sedangkan dalam pengertian sempit predestinasi didefinisikan sebagai keputusan kekal Allah dalam menentukan di dalam diriNya sendiri, berdasarkan kehendak bebasNya, apa yang Dia akan lakukan pada setiap individu dari umat manusia. Dengan keputusan yang kekal dan tidak beruah-ubah itu, Allah telah menen­tukan atau menetapkan seluruh rangkaian proses penyelamatan, siapa yang akan menerima keselamatan, dan selanjutnya bagaimana memelihara mereka yang telah diselamatkan, dan juga Allah telah menetapkan siapa yang akan dibiarkan untuk binasa.
Konsep predestinasi Allah dapat dijelaskan secara sederhana demikian:
“Allah telah mempredestinasikan – menentukan Yesus untuk mengalami penderitaan demi menyelamatkan manusia. Allah mempredestinasikan juga semua orang pilihan untuk menerima keselamatan, agar mereka menjadi anak-anak Allah sesuai dengan suatu rencana yang telah ditetapkan oleh Allah sebelumnya. Allah telah mengenal mereka sejak semula, dan memilih mereka sejak semula. Allah juga telah mempersiapkan suatu Kerajaan bagi mereka. Untuk mereka yang menjadi pilihanNya, ke­putusan Allah itu berdasarkan rahmatNya yang cuma-­cuma tanpa mengindahkan sama sekali apakah manusia itu layak untuk menerimanya. Bagi orang-orang pilihan, panggilan itu adalah bukti tentang terpilihnya mereka. Sedangkan untuk mereka yang dibiarkan untuk binasa, Ia menutup jalan masuk ke kehidupan, dengan cara menutup pengetahuan tentang namaNya.
Kata predestinasi terdapat enam kali di dalam Perjanjian Baru. Pertama diungkapkan oleh Petrus dalam Kis. 4:28, dan sisanya lima (ditemukan di dalam surat-surat Paulus yaitu: Rom. 9:29, 30; 1 Kor. 2:7; dan Ef. 1:5, 11). Di dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia kata predestinasi diganti dengan ungkapan: menentukan dari semula. Tetapi, di dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris dan Yunani, kata predestinasi dipakai secara konsisten. Untuk lebih jelasnya, bagian dari ayat-ayat tentang predestinasi akan ditulis dan dibandingkan satu dengan yang lain:
1.      Kis. 4:28 – untuk melaksanakan, segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula. Inggris: predetermined, artinya: menetapkan sebelum­nya, mengodratkan. Yunani: proorisen, artinya: memberi tanda, merancang, mentakdirkan.
2.      Rom. 8:29 – sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula. Inggris: He also did predestinate artinya: mentakdirkan. Yunani: proorisen artinya menentukan batas, menetapkan.
3.      Rom. 8:30 – dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula. Inggris: whom he did predestinate. Yunani proorisen. Memiliki arti yang sama dengan istilah yang sebelumnya.
4.      1 Kor. 2:7 – rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. Inggris: which God ordained, artinya: yang Allah takdirkan, atau which God predetermined, artinya: yang Allah tetapkan sebelumnya, atau yang Allah kodratkan. Yunani: proorisen.
5.      Ef. 1:5 – Ia telah menentukan kita dari semula. Inggris: Having predestinated, artinya: Allah telah mempredestinasikan, atau mentakdirkan. Yunani: proorisen.
6.      Ef. 1:11 – kami yang dari semula ditentukan. Inggris: being predestinated, artinya: dipredestinasi­kan.
Ayat-ayat Alkitab di atas kiranya cukup untuk dijadikan alasan dan bukti bahwa: Kata predestinasi benar-benar bersumber dari Alkitab; Predestinasi murni adalah bahasa yang digunakan di dalam Alkitab untuk mengungkapkan tindakan kekal Allah; Makna predestinasi yang dimaksud oleh Paulus, ataupun yang dimaksud oleh Allah, sudah tentu sesuai dengan makna yang terkandung di dalam kata itu sendiri.
Paulus menghubungkan secara langsung sifat kedaulatan mutlak Allah dengan tindakan predestinasi Allah. Allah menyatakan kedaulatan mutlakNya atas semua ciptaanNya dengan cara melakukan tindakan predestinasi. Sudah disebutkan sebelumnya bahwa secara teologis, predestinasi menekankan penentuan atas semua peristiwa historis dan penentuan terhadap apa yang akan dilakukanNya terhadap setiap individu. Semua keputusan penentuan itu telah dilakukan sejak semula. Paulus lebih banyak membahas tindakan predestinasi Allah yang bersifat individual, yaitu ke­putusan kekal atau penentuan kekal dari Allah berkenaan dengan apa yang Dia akan lakukan terhadap setiap individu. Maksudnya bahwa sejak semula Allah telah menentukan sebagian orang untuk diselamatkan, dan juga sejak semua Ia telah membiarkan sebagian orang untuk menempuh jalannya sendiri menuju kepada kebinasaan.
Penenkanan Paulus pada predestinasi individual mau menyatakan bahwa hal menerima anugerah keselamatan atau menjadi anak-anak Tuhan merupakan rencana dan keputusan mutlak dari Allah. Rencana dan keputusan kekal Allah tersebut meliputi tiga hal penting yaitu: Siapa, secara individual yang akan me-
nerima anugerah keselamatan dan menjadi anak-anak Allah; Proses, bagaimana Allah membawa orang­-orang yang telah dipredestinasikan itu sampai kepada tahap menerima anugerah keselamatan dan menjadi anak-anak Tuhan; Sistem atau cara yang digunakan Allah untuk memelihara orang-orang yang telah beriman.
Dalam pengertian lain, tindakan predestinasi Allah didasarkan atas dorongan kasih dan kemurahan hati Allah, dan tidak berdasarkan atas kepantasan hidup seseorang. Prinsip ini diulangi oleh Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus: “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya” (Ef. 1:5). Oleh karena Allah memiliki kedaulatan mutlak, maka Allah bebas melakukan apa saja yang Dia kehendaki demi dan untuk kebaikan ciptaanNya, termasuk di dalamnya adalah predestinasi. Dan sebagai Allah yang berdaulat mutlak, Ia juga bebas merealisasikan semua ketetapan kehendak­Nya yang telah di rencanakan sejak semula, meskipun hal itu mungkin sangat kontradiktif dengan konsep kasih dan rasa keadilan manusia.

Bahan Bacaan:
- Berkhof Louis, Teologi Sistematika, Jakarta: LRI, 1993
- Burnot A., Paulus dan Pesannya, Jogjakarta: Kanisius, 1992
- Tandiassa, Teologia Paulus, Jogjakarta: MPH, 2008
- Feinberg, Predestinasi dan Kehendak Bebas, Jakarta: LRI, 1995
- Hayon Nikolas, Tema-tema Paulus, Flores – Nusa Indah, 1988
- Jacobs Tom, Paulus, Hidup dan Karya Teologianya, Jogjakarta: Kanisius, 1983

READ MORE - PREDESTINASI

Tuesday, January 26, 2010

SEKILAS SEJARAH KEHADIRAN GEREJA DI INDONESIA

0 comments

Sejarah Keberadaan Gereja Di Indonesia
Pertemuan Injil dengan Indonesia tidak dapat dilepaskan dengan perjalanan Injil itu sendiri. Hal ini tampak dalam perjalanan Injil dari Yerusalem, Yudea, dan Samaria sampai ke ujung bumi. Pada satu pihak ada perjalanan Injil ke arah barat dan juga perjalanan Injil ke arah Timur. Awal dari perjalanan Injil ke arah barat itu dapat ditelusuri dalam kitab Kisah Para Rasul. Sedangkan Perjalanan Injil ke arah timur tidak tercatat dalam Alkitab dan hanya diketahui lewat sejarah saja, meskipun catatan-catatan sejarah mengenai perjalanan Injil ke arah timur ini pun sangat sedikit. Ditambah lagi pula hasil perjalanan Injil ke arah timur kemudian hampir lenyap. Oleh sebab itu, perjalanan Injil ke arah timur ini hampir tidak diketahui dan hampir tidak dikenal di Indonesia.
Salah satu gereja yang terpenting sebagai hasil dari perjalanan Injil ke arah timur ini ialah Gereja Nestoriah. Gereja Nestoriah itu lama berpusat di Baghdad. Dari abad ke-6 sampai abad ke-13 Gereja Nestoriah telah menjalankan pekabaran Injil yang sangat luas sampai ke India dan Cina. Para penginjil dari Gereja Nestoriah itulah yang menerjemahkan Alkitab untuk pertama kali dalam bahasa Cina. Dalam suatu buku dalam bahasa Arab yang ditulis oleh Shaykh Abu Salih al-Armini dikatakan bahwa di Fansur (Barus), di pantai Barat Tapanuli, terdapat banyak Gereja Nestoriah. Ada petunjuk-petunjuk bahwa kaum Nestoriah telah hadir di Barus sejak tahun 645.[1]
Dalam abad ke-14 dan ke-15 Gereja Nestoriah itu praktis lenyap, walaupun sampai sekarang masih ada sisa-sisanya di Iran dan Irak. Gereja Nestoriah di Barus telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Para penginjil dari Gereja Nestoriah tidak pernah menerjemahkan Alkitab ke bahasa Melayu, yang pada abad ke-7 telah luas tersebar di kawasan Asia Tenggara. Dengan demikian kita lihat bahwa Injil telah tiba di Indonesia untuk pertama kali dalam rangka perjalanan Injil dari Yerusalem ke arah timur, lama sebelum Islam tiba di Indonesia. Tetapi kedatangan pertama Injil di Indonesia itu tidak meninggalkan bekas. Injil telah datang untuk kedua kali di Indonesia melalui jalan yang panjang, yaitu dari Yerusalem ke arah barat, ke Eropa, dan baru pada abad ke-16 Injil kembali ke Indonesia dari Eropa bersamaan waktu dengan kedatangan orang-orang Portugis, yang kemudian disusul oleh kedatangan orang-orang Belanda pada abad ke-17.[2]
Dalam hubungan itu baiklah kita baca Kisah Para Rasul 16:8-10. Di situ kita baca bahwa Rasul Paulus tidak memunyai rencana untuk membawa Injil dari Asia ke Eropa, yaitu ke Makedonia. Membawa Injil dari Asia ke Eropa bukan strategi Paulus, melainkan strategi Roh Yesus sendiri (Kisah Para Rasul 16:8). Sejarah dunia dan sejarah gereja akan lain sama sekali andaikata Injil tidak dibawa dari Asia ke Eropa, artinya ke dunia Barat. Pada waktu Injil tiba di Indonesia untuk pertama kali pada abad ke-7 dan untuk kedua kali dalam abad ke-16, Indonesia telah memunyai perkembangan yang menarik dari segi sejarah dan dari segi agama serta kebudayaan. Injil tidak tiba di Indonesia dalam keadaan yang "kosong" dari segi agama dan kebudayaan. Dapat kita catat adanya beberapa "lapisan" dalam sejarah keagamaan dan kebudayaan kita sehingga Indonesia dapat kita lihat sebagai suatu kue lapis yang memperlihatkan lapisan-lapisan keagamaan dan kebudayaan yang memunyai coraknya masing-masing.
Dari keterangan di atas kemudian dapat ditelusuri bahwa pada umumnya masyarakat Indonesia termasuk para sejarawannya, demikian pula dengan gereja ber­pendapat bahwa Injil baru masuk ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan bangsa Portugis di awal abad ke-16. Bagi kalangan Kristen Protestan hal ini diperkuat dengan tulisan DR. Th. Malin Krueger dalam buku standar tentang Sejarah Gereja di Indonesia, yang mengatakan bahwa tidak didapati sedikit pun bekas Pekabaran Injil di Indonesia, dan tidak terdapat seorang Kristen pun di Indonesia sebelum kedatangan bangsa Portugis sebab merekalah yang pertama-tama menyiarkan Agama Kristen di Indonesia.
Meskipun penelitian yang lebih seksama dengan menggunakan sumber-sumber tulisan yang lebih kuno di Timur Tengah, membuktikan hal yang sebaliknya. Bermula dengan memuncaknya pertentangan antara Gereja Barat dengan Gereja Timur yang berakibat terpisahnya gereja, maka Gereja Timur berdiri sendiri dengan pimpinannya seorang uskup di Persia dengan memakai gelar Ketholikos, di tahun 410.[3] Gereja ini kemudian dikenal sebagai Gereja Khaldea, atau Gereja Syria Timur. Gereja ini adalah pengikut ajaran Nestorius, sehingga juga dikenal sebagai gereja Nestorian (Nestorian, Nusthuri/Nasathariah). Sampai sekitar abad ke-13, pusat gereja ini berkedudukan di Baghdad dan wilayah wewenang pelayanannya meliputi Cyprus, Irak, Iran, Manchuria, Mongolia, India, Sri Lanka, Sumatera dan Jawa.
Dalam sebuah naskah kuno tulisan Shaykh Abu Salih al-Armini, terdapat daftar dari 707 gereja dan 181 biara yang tersebar dimana-mana, yang termasuk dalam wilayah pelayanan provinsi Mesir, di antaranya termasuk Indonesia. Dalam naskah itu disebut Fansur yang disebut terdapat banyak gereja dan biara. Fansur atau Pancur adalah kota pelabuhan di Sumatera Utara, yang terletak di dekat kota Barus yang waktu itu sangat ramai sebagai kota pelabuhan perdagangan kapur barus, hal ini dicatat di sekitar abad ke 7. Berita kemudian yang masih menyebut adanya gereja di Sumatera ditulis oleh Metropolit Gereja Suriah Timur yang bertugas antara tahun 1291-1319, yang mencantumkan keuskupan agung Dabhagh (Sumatera).
Sumber lain yang menyebut masih adanya gereja dan orang Kristen di Indonesia, adalah catatan perjalanan Uskup Joa de Marignoli OFM, Duta Besar Paus Clemens VI di Peking, yang pernah berkunjung ke Sumatera (Kerajaan Sriwijaya) dan masih sempat melayani orang-orang Kristen di sana pada tahun 1346. Hingga akhirnya jejak dari masa kekristenan pada awal masuk ke Indonesia hilang dan tidak lagi diketahui proses perkembangannya. Apa yang terjadi dengan orang Kristen masa itu masih belum jelas, namun suatu penggalian yang diadakan di tahun 1610 di Malaka, menemukan puing-puing gereja dengan hiasan salib bergaya Khaldea.[4]
Di Abad XVI terjadi perubahan besar di dunia politik dan perdagangan yang ditandai dengan ditemukannya jalan laut ke Asia oleh Eropa. Dimulailah perjalanan ekspedisi besar-besaran yang ditandai dengan berhasilnya Portugis merebut Malaka di tahun 1511, sebuah kota yang menjadi pusat per­dagangan di Nusantara.[5] Dari sini mereka mengirim armadanya dan berhasil menguasai wilayah Maluku, sumber rempah-rempah sebagai komoditi perdagangan yang bernilai jual tinggi waktu itu. Sementara itu Kerajaan Majapahit mulai kehilangan kekuasaannya. Kerajaan-kerajaan pantai di Sumatera mulai menyatakan diri berdiri sendiri, juga di Jawa, kerajaan-kerajaan terutama di kota-kota pelabuhan semakin berani untuk melepaskan diri dari Majapahit. Perkembangan ini berjalan seiring dengan semakin luasnya pengaruh Islam yang berkembang dengan pesat pada abad ke-15 hingga ke-16.
Terkait dengan penyebaran Agama Katolik dimulai bersamaan dengan datangnya bangsa portugis setelah berhasil menguasai Malaka yang waktu itu memegang peranan penting perdagangan, yang kemudian dijadikan pusat kegiatan misi. Pada tahun 1555 diresmikanlah keuskupan Malaka yang mencakup Indonesia. Penyebaran Agama Katolik ter­utama di kalangan rakyat yang menganut kepercayaan lama. Sesuai dengan prinsip Kerajaan Ka­tolik waktu itu, maka pekerjaan misi didukung dan dibiayai sepenuhnya oleh Negara dimana hal ini dipercayakan oleh Paus kepada Raja.[6] Namun, di tahap pertama ini tidak nampak pekerjaan misi yang cukup terarah, karena terlalu tergantung pada perkembangan penguasa Portugis. Pekerjaan misi yang sungguh baru terjadi adalah dengan kedatangan Fransiskus Xaverius di tahun 1546 sampai 1547.[7] Sehingga pekerjaan misi kemudian mencapai Sulawesi Utara, beberapa tempat di Jawa khususnya di daerah yang masih ada pengaruh Hindu, dan Kalimantan.
Peristiwa penting dalam sejarah politik di Asia Tenggara pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 adalah terjadinya peralihan kekuasaan kolonial, dari Portugis kepada pihak Belanda.[8] Tujuannya tetap sama untuk menguasai daerah sumber bahan perdagangan. Sebab itu penguasaan daerah jajahan itu dilaksanakan melalui suatu badan perdagangan yang di­sebut VOC (Verenigde Osstindiesche Compagnie), yang mendapat hak monopoli dari pe­merintahnya di negeri Belanda, termasuk hak memiliki tentara sendiri, mencetak uang sendi­ri, mengambil keputusan untuk berperang serta mengadakan perjanjian.
Pada mulanya VOC hanya memerlukan pelayanan rohani untuk melayani orang-­orang mereka sendiri. Kemudian mereka diperhadapkan dengan soal baru, setelah melihat bahwa ada orang-orang Kristen Indonesia peninggalan Misi Katolik. Jumlah orang Katolik di Maluku, Sulawesi Utara, Pulau Siau dan Sangir disebut sekitar 40.000 jiwa. Menurut pemikiran waktu itu, maka adalah hak dan kewajiban VOC untuk membuat orang Katolik itu menjadi Protestan, sesuai dengan agama yang dianut oleh penguasa. Tentu ada juga latar belakang politik, sebab VOC khawatir jika mereka tetap dibiarkan Katolik sekali waktu mereka dapat mengundang lagi Portugis atau Spanyol. Selanjutnya antara tahun 1708-1771 (selama 63 tahun), jumlah orang Indonesia yang dibaptis ber­jumlah 43.748 jiwa, di antaranya hanya 1.205 yang boleh ikut perayaan Perjamuan Kudus. Maka, bila diperhitungkan jumlah orang Katolik yang ditinggalkan oleh Misi Portugis se­banyak 40.000 jiwa, maka pada dasarnya di masa VOC dapat dikatakan gereja sama sekali tidak berkembang secara signifikan dan berarti.[9]
Babak berikut yang sangat berarti dalam sejarah penyebaran Injil di Indonesia adalah dengan berakhirnya keberadaan VOC setelah berkuasa selama 200 tahun tepatnya pada 1799. Pemerintah Belanda yang akhirnya melanjutkan penguasaannya di Indonesia, namun tidak melihat dirinya sebagai “penguasa Kristen”, melainkan suatu pemerintah sekuler. Terhadap masalah keagamaan, pemerintah Belanda bersikap netral. Di bawah Gubernur Jenderal Daendels, diproklamasikanlah kebebasan agama yang berarti juga berakhirnya monopoli Kristen Calvinis, dan kebebasan bagi Gereja Lutheran. Sedangkan Katolik mendapat ijin kembali untuk mengadakan pekerjaan misi dan mendatangkan Imam ke Indonesia. Begitu juga dengan Islam secara resmi disokong untuk menunaikan ibadah Haji ke Mekkah sebagai salah satu wujud hukum Islam yang harus dipenuhi, Lembaga-lembaga Pekabaran Injil diperbolehkan secara bebas masuk ke Indonesia.[10]



[1] Bnd. T.B. Simatupang, Tantangan Gereja di Indonesia, Jakarta: YAKIN, n.t., hlm. 1-5.
[2] Ibid., hlm. 6-10
[3] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2004, hlm. 56-57. Dalam hal ini konsentrasi pokok pecahnya gereja berawal dari adanya perbedaan paham mengenai tabiat Yesus Kristus.
[4] Fridolin Ukur, Buku Makalah; Seminar Pertumbuhan Gereja 1989, Jakarta: SPG’89, 1990, hlm. 3-5 Bnd. Juga dengan Th.van den End, Harta Dalam Bejana, Jakarta: BPK-GM, 2004, hlm. 87-94. Dijelaskan bahwasanya gereja Nestorian juga sempat menguasi pekabaran Injil di Asia mulai dari abad ke-4 hingga ke-14. dan berakhir setelah ditimpa oleh beberapa peristiwa besar khususnya dengan bangkitnya bangsa Mongol yang tidak dapat dikristenkan malah memeluk agama Islam atau Buddha, begitu juga dengan Asia Tengah  dimana beberapa suku yang telah menganut agama Kristen akhirnya beralih ke Islam dan damapak perang Timur Lenk yang membunuh berjuta-juta orang Kristen di daerah ini sehingga berdampak pada terhapusnya kekristenan di Semenanjung Arabia.
[5] Th. Van den End, Ragi Carita I, Jakarta: BPK-GM, 1987, hlm. 22 dan 239. Keberhasilan ini tidak terlepas dari berhasilnya Potugis oleh Vasco da Gama menemukan jalan laut ke Asia pada tahun 1498 dan merebut Goa pada tahun 1510 dan dijadikan pusat kegiatan Portugis di Asia. Bnd. Th.van den End, Harta Dalam Bejana, Op.Cit., hlm. 205. Dalam hal ini “Perjanjian Tordesillas” pada tahun 1494 menjadi bagian terpenting dari ekspedisi yang dilakukan oleh Portugis. Dimana lewat perjanjian tersebut Spanyol dan Portugis membagi dunia menjadi dua bahagian Barat untuk Spanyol dan Timur untuk Portugis.    
[6] Anne Ruck, Sejarah Gereja Asia, Jakarta: BPK-GM, 2005, hlm. 97. Dengan kata lain raja menjadi spnsor gereja yang dikenal dengan system “padoado” yang berarti pelindung atau penyokong
[7] Ibid., hlm. 98. Xaverius yang dilahirkan di pegunungan Baskis, Spanyol Utara pada tahun 1506 adalah salah satu tokoh bersama dengan Ignatius Loyola yang telah berhasil mendirikan Ordo Yesuit. Memberikan kasih sayang  adalah metode Xaverius dalam pekerjaan pekabaran Injil sehingga menjadi kunci keberhasilannya dalam menyiarkan agama Katolik.
[8] Th. Van den End, Ragi Carita I, Op.Cit., hlm. 59
[9] Fridolin Ukur, Op.Cit., hlm. 7
[10] Th. Van den End & J. Weitjens, Ragi Carita II, Jakarta: BPK-GM, 2003, hlm. 47. Namun, bersamaan dengan itu, demi kepentingan politik dengan menggunakan alasan rust en orde (ketertiban dan keamanan) diadakanlah ketentuan yang membatasi kebebasan Agama Kristen, seperti tertutupnya beberapa daerah bagi pekabaran Injil. Bahkan ada beberapa daerah yang diperbolehkan mengadakan Pekabaran Injil setelah dan di permulaan abad ke-20 (tahun1904).
READ MORE - SEKILAS SEJARAH KEHADIRAN GEREJA DI INDONESIA

Saturday, January 9, 2010

TEMPAT TUHAN DALAM HIDUP KITA

0 comments

SEJAUH MANA ANDA
MENGUNDANG TUHAN DI DALAM HIDUP ANDA?


Seorang pemuda yang kaya raya tinggal
di sebuah rumah yang sangat besar dengan lusinan kamar.
Setiap kamar lebih nyaman dan lebih indah
dibandingkan kamar sebelumnya.
Di dalam rumah itu terdapat berbagai karya seni lukis dan pahatan,
lampu-lampu kristal, serta pegangan tangan berukir
berlapis emas pada setiap tangga.
Lebih indah dari apa yang kebanyakan orang pernah melihat.

Suatu hari pemuda tersebut memutuskan
untuk mengundang Tuhan datang dan tinggal bersamanya di rumah itu.
Ketika Tuhan datang, pemuda ini menawarkan kepadaNya
kamar yang terbaik di dalam rumah itu.
Kamar tersebut terletak di ujung bagian atas.

"Yesus, kamar ini milikMu!
Tinggallah selama Engkau mau dan lakukan
apa yang Engkau mau lakukan di dalam kamar ini.
Ingat, ini adalah kamarMu."

Malam harinya,
ketika pemuda tersebut sudah bersiap untuk istirahat,
terdengar bunyi ketukan yang sangat keras di pintu depan.
Mendengar ketukan itu, pemuda tersebut turun untuk membukakan pintu.

Ketika dia membuka pintu,
dia melihat bahwa iblis telah mengirim tiga roh jahat untuk menyerangnya.
Dia dengan cepat menutup pintu,
tetapi salah satu roh jahat mengganjal pintu itu dengan kakinya.

Beberapa saat kemudian,
setelah bertarung dengan sekuat tenaga,
pemuda tersebut berhasil menutup
dan mengunci pintu kemudian kembali ke kamarnya dalam keadaan sangat lelah. "Bayangkan!" pikir pemuda itu.
"Yesus ada di atas,
tidur dalam ruangan yang terbaik
sedangkan saya bertarung melawan roh-roh jahat di bawah.
Oh, mungkin Dia tidak mendengar."
Pemuda itu tidur sangat sebentar malam itu.

Keesokan harinya, segala sesuatunya berjalan dengan normal dan,
karena merasa sangat lelah,
pemuda tersebut tidur agak awal pada malam harinya.
Sekitar tengah malam,
terdengar ada yang menggedor-gedor pintu depan
seolah-olah akan mendobrak pintu.
Pemuda tersebut menuruni tangga lagi
dan membuka pintu serta menjumpai lusinan roh jahat
berusaha masuk ke dalam rumahnya yang indah.
Selama lebih dari tiga jam pemuda itu bertarung melawan mereka
dan akhirnya membuat mereka mundur, cukup untuk menutup pintu.

Pemuda itu sangat kehabisan tenaga.
Dia sama sekali tidak mengerti.
Mengapa Tuhan tidak datang untuk menolong?
Mengapa Dia membiarkan aku bertarung seorang diri?
Dengan gundahnya,
dia berjalan ke sofa dan tidur dengan tidak nyaman.

Keesokan paginya, dia memutuskan untuk bertanya kepada Tuhan
mengenai segala yang terjadi pada dua malam tersebut.
Perlahan-lahan dia berjalan ke kamar tidur yang sangat indah
di mana Yesus ia tempatkan.
"Yesus," panggilnya sambil mengetuk pintu.
"Tuhan, aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Selama dua malam ini saya harus bertarung
membuat si jahat pergi dari pintu rumaku, sementara Engkau tidur di sini.
Tidakkah Engkau memperhatikanku?
Bukankah aku telah memberikan kepadaMu
ruangan yang terbaik di dalam rumah ini?"

Pemuda tersebut melihat Yesus menitikkan air mata,
tetapi dia meneruskan,
"Aku tidak mengerti, aku berpikir bahwa jika aku mengundangMu
untuk tinggal bersamaku,
Engkau akan menjagaku,
dan aku berikan kepadaMu kamar yang terbaik dalam rumahku.
Apalagi yang harus aku perbuat?"

"Anakku yang kukasihi,"
Yesus berkata dengan sangat lembut.
"Aku sungguh-sungguh mengasihi engkau dan sangat memperhatikanmu.
Aku melindungi apa yang engkau berikan kepadaKu untuk Kujaga.
Tetapi ketika engkau mengundangKu untuk datang dan tinggal di sini,
engkau membawaKu ke kamar yang indah ini
dan menutup pintu ke bagian lain dari rumah ini.
Aku menjadi Tuhan atas kamar ini
dan tidak ada roh jahat yang bisa masuk kemari."
"Oh, Tuhan, ampuni aku. Ambillah seluruh rumahku – semuanya milikMu.
Aku menyesal tidak menyerahkan kepadaMu seluruhnya.
Aku ingin Engkau mengatur semuanya."
Sambil berkata demikian,
dia membuka pintu kamar itu dan berlutut di kaki Yesus.
"Tuhan, ampuni aku karena aku hanya memikirkan diriku sendiri."

Yesus tersenyum dan berkata
bahwa Dia telah mengampuni pemuda itu
dan Dia akan mengatur segala sesuatunya mulai saat itu.
Malam itu, ketika si pemuda bersiap untuk tidur dia berpikir,
"Aku ingin tahu apakah roh-roh jahat itu akan kembali,
aku bosan menghadapi mereka setiap malam."
Tapi dia tahu bahwa Yesus akan membereskan semuanya sejak saat itu.

Sekitar tengah malam,
terdengar suara menggedor-gedor pintu yang sangat menakutkan.
Si pemuda keluar dari kamarnya dan melihat Yesus menuruni tangga.
Dia menyaksikan dengan penuh kekaguman ketika Yesus membuka pintu,
tanpa merasa takut.
Setan berdiri di muka pintu meminta untuk masuk.
Apa yang engkau inginkan?" tanya Tuhan.
Si iblis menunduk di hadapan Tuhan,
"Maaf, tampaknya saya salah alamat."
Dengan perkataan tersebut iblis dan pasukannya pergi menjauh.

Inti dari kisah ini adalah:
Yesus menginginkan engkau seutuhnya,
bukan hanya sebagian.
Dia akan mengambil semua yang engkau berikan kepadaNya,
dan tidak lebih dari itu.
Seberapa bagian dari hati yang telah engkau berikan kepada Tuhan?
Masih adakah bagian yang tidak engkau berikan kepadaNya?

Mungkin serangan-serangan itu akan datang semakin dahsyat dari hari ke hari.
Mengapa tidak membiarkan Tuhan berperang untukmu?
Dia selalu menang.

Tuhan membuat segala sesuatunya mudah bagi manusia,
segala kerumitan manusia berasal dari dirinya sendiri.
posted by anonim
READ MORE - TEMPAT TUHAN DALAM HIDUP KITA

Thursday, December 31, 2009

PONDASI DAN PENGHARAPAN UNTUK TAHUN 2010

0 comments

PENGHARAPAN dan PONDASI
“MENILIK DALAM PERSPEKTIF PERJANJIAN LAMA
SEBAGAI PERSIAPAN UNTUK MEMASUKI
TAHUN 2010”
PENGANTAR
Meninjau lebih jauh kesejarahan kekristenan dalam literatur pondasi iman kristiani yakni Alkitab, maka kita tidak akan putus-putusnya menemukan keajaiban karya Allah di dalam sejarah manusia dan peradabannya. Demikianlah, kemudian manusia diarahkan atas suatu pola hidup untuk selalu melihat adanya karya yang tiada batas atas hidupnya. Dan, menjadi awal dari berbagai kekuatan yang dihadirkan untuk menyongsong setiap keterbukaan pada hidup yang bergerak dinamis dan terus berubah. Di tengah jatuh bangunnya manusia atas fenomena hidup yang dialaminya, muncul kemudian kesadaran secara sadar atas suatu kerinduan campur tangan yang lebih besar dari kekuatan manusia itu sendiri; yang kemudian terakumulasi pada suatu keyakinan memperoleh kemenangan atas pertandingan hidup; meski belum dialami, namun dengan sadar percaya akan mengalaminya. Itulah yang kemudian diterjewantahkan dalam bentuk pengharapan yang ada dalam setiap diri manusia atas kehidupannya.
Alkitab, terlebih Perjanjian Baru banyak bercerita mengenai pengharapan yang manusia cari-cari dalam kehidupannya; yang semakin dikuatkan oleh cerita peristiwa penyelamatan oleh semata kasih dari Allah untuk manusia melalui kehadiran inkarnasi Allah dalam diri Yesus Kristus yang menyentuh segenap aspek kehidupan manusia. Akan tetapi jarang kemudian ditemukan, banyak jemaat Tuhan melihat hal yang sama diwartakan oleh Perjanjian Baru atas pengharapan, juga menjadi tedensi dari kabar baik yang diwartakan oleh Perjanjian Lama. Ternyata, Perjanjian Lama juga tidak sedikit memperbincangkan hubungan iman dengan pengharapan yang akan datang.
Bultmann, salah satu dari banyak para teolog meyakini akan keterbukaan terhadap pengharapan masa depan sebagai yang menentukan dalam pandangan Perjanjian Lama tentang Allah, manusia dan sejarah. Perjanjian Lama juga sangat memperhatikan hubungan kenyataan masa lalu dan masa kini sebagai salah satu aspek paling penting, yakni pengharapan akan masa depan.
Lewat tulisan sederhana ini, kami akan uraikan secara sederhana terhadap pandangan Perjanjian Lama mengenai pengharapan; sebagai pondasi dan motivasi bagi kita untuk berlaku siap menghadapi berbagai bianglala kehidupan di tahun 2010. Semoga!
HASIL PENILIKAN
I. Perkembangan Pengharapan (eskatologi) bangsa Israel
Perkembangan pengharapan masa depan dalam sejarah Israel sudah berlangsung lama, hal ini ditandai bahwa sejak awal Israel sudah memiliki semacam harapan akan masa depan. Hal ini nyata dapat kita temukan dalam beberapa tulisan dalam Perjanjian Lama seperti; Kejadian 12:1-3; 49; Keluaran 3:8; Bilangan 24; Ulangan 33; 2 Samuel 7; 23:3-5; Amos 5:18 dan Mazmur 2; 45; 68; 110. Secara terinci dapat kita temukan pemaparan akan pengharapan manusia dalam Perjan­jian Lama mulai dari riwayat zaman permulaan; Kejadian 1:26; 2:17; 3:14­20; 4:11-15; 6:5-8; 8:21-22; 11:4 dan yang berkaitan. Pada umumnya pengharapan di sini merupakan pandangan yang optimistis tentang masa depan, yang meng­harapkan berkat-berkat jasmani dan rohani baik dalam dunia politik maupun keluarga. Harapan akan keselamatan dalam riwayat zaman per­mulaan tersebut sebagian besar bersangkut-paut dengan kelestarian tatanan kehidupan non-radikalistik (ide-ide pengharapan yang radikal muncul dikemudian harinya).
Dasarnya ialah keyakinan "bahwa sejarah bergerak dengan tujuan tertentu yang ditentukan oleh Allah, dan Allah berkarya dalam sejarah untuk memasti­kan tujuan tersebut". Ide-ide seperti inilah yang kemudian sering di­sebut dengan "eskatologi". Akan tetapi, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa pengertian eskatologi yang lebih sempit yakni sebagai "ajaran tentang akhir zaman" sangat jarang ditemukan dalam teologia Perjanjian Lama.
Berbagai usaha telah diadakan untuk menjelaskan asal mula dan dasar eskatologi di tengah bangsa Israel. Dan oleh Volz, menyatakan bahwa paham kebangsaan adalah sebagai sumber dari kehadiran konsep pengharapan atau eskatologi Israel. Namun, oleh Gressmann menekankan bahwa unsur-unsur mite dari pemikiran mitis di dunia timur kuno adalah sumbernya. Lain halnya dengan Mowinckel, bahwa eskatologi bangsa Israel berawal dari ketidakpuasan rakyat atas kehadiran pengangkatan Raja sebagai pemimpin mereka yang ternyata jauh dari gambaran raja yang mereka harapkan.
Dengan begitu, jelaslah bahwa eskatologi Perjanjian Lama mempunyai dasar histo­ris dan teologis; keyakinan dasar yang dianut dalam Perjanjian Lama ialah bahwa Allah berkarya dalam sejarah Israel. Untuk itu, kita dapat melihat harapan-harapan akan masa depan dalam Perjanjian Lama didasarkan pada beberapa substansi: 1) Kepastian bahwa Allah tetap berkarya walaupun kehidupan bisa saja sulit; 2) Ketegangan antara kehadiran Allah dan ketersembunyian-Nya, yang menimbulkan pengharapan akan kehadiran Allah secara sem­purna pada masa depan; 3) Pemahaman tentang dosa dan ketidakpercayaan Israel secara radikal, yang hanya dapat diatasi oleh anugerah Allah; 4) Keyakinan para nabi bahwa Allah akan berkarya pada masa depan, sebagaimana karyaNya pada masa lalu, walaupun dengan cara yang benar-benar baru.
I. Eskatologi para nabi
Periode klasik dalam perkembangan eskatologi Israel adalah zaman nabi nabi. Penghakiman dan keselamatan digambarkan dengan sejelas-jelasnya dalam pemberitaan mereka seperti yang tampak pada hampir setiap halaman tulisan mereka. Perlu diketahui bahwa Nabi-nabi sebelum pembuangan merujuk pada optimisme Israel yang populer dan memberitakan penghakiman Allah yang radikal; sedangkan nabi-nabi pada masa pembuangan mem­perkenalkan suatu optimisme yang baru sambil menunjuk kepada permulaan, ciptaan dan keselamatan yang baru. Dari banyak ciri-ciri pengharapan pada masa nabi, ada empat ciri utama yang dapat dipisahkan yakni menyangkut waktu, umat, tempat dan tokoh.
A. Hari Tuhan
Sejak awal zaman para nabi terdapat suatu keyakinan akan waktu atau "hari" ketika Allah akan campur tangan dalam sejarah Israel (Am 5:18­-20). Keyakinan itu nyata dalam ungkapan "hari TUHAN" (lih. Yes 13:6, 9; Yeh. 13:5; Ob. 15; Zef. 1:7, 14; Za. 14:1).
B. Pembaruan Rohani
Nabi-nabi menantikan pembaruan umat Allah. Setelah penghukuman akan ada pembaruan (Yer. 29:14, 30:3; Yeh. 16:53; Zef. 3:30). Bangsa Israel akan dibawa ke pembuangan, tetapi sisa bangsa itu akan kembali (Yes. 7:3; 10:20-22; Yer. 23:3). Mereka akan ikut serta dalam suatu keluaran baru (Yes. 4:5; 10:24-27; 35; 51:9-11; 52:12; Hos. 11:10-11); suatu perjanjian baru akan diadakan (Yer. 30-33 bnd. Yes. 55:3; Yeh. 16:60, 34:25-31); dan Allah akan memberi mereka roh yang baru (Yeh. 11:19, 36:26, 37:1-14 bnd. Yes. 11:2; Yeh. 18:31; Hos. 6:1-3).
C. Harapan yang bersifat kebendaan
Dalam eskatologi yang dikumandangkan oleh para nabi terdapat juga aspek kebendaan, khususnya menyangkut tempat. Hal ini sering diungkapkan dengan ide-ide tentang pembaruan dunia yang bersifat idaman, dan memiliki dua garis utama. Tema tentang kembalinya Firdaus muncul berulang-ulang dalam tulisan para nabi (Yes. 11:6-9, 25:8, 51:3; Mi. 4:3). Di samping itu ada pengharapan akan tanah suci yang diperbarui (Yes. 62:4 bnd. 65:17; Yer. 30:3, 32:6-15, Yeh. 20:40-42) dan kota suci yang diperbarui (Yes. 60-66; Yeh. 40-48; Mi. 4:1-2; Za. 2).
D. Mesias
Akhirnya, ketika umat Israel dalam pengharapan dan memandang ke masa depan, mereka tidak jarang memusatkan perhatian pada seorang tokoh yang akan diutus Allah. Hal itu tidak mengherankan karena mereka telah menga­lami bahwa Allah membangkitkan orang-orang tertentu untuk meme­nuhi kebutuhan politik maupun rohani mereka, seperti para hakim, imam, raja, nabi dan orang bijaksana lainnya. Konsep Mesias, walaupun jarang dihu­bungkan dalam Perjanjian Lama dengan kata aslinya dalam bahasa Ibrani (masyiakh); dapat dilihat pada berbagai zaman, teristimewa berhubungan dengan gambaran Anak Daud (2 Sam. 7; Yes. 9; 11 bnd. Mzm. 89; 132) dan hamba Tuhan (Yes. 42, 49-50, 53). Jelaslah pengharapan akan Mesias merupakan salah satu perhatian yang paling penting dalam teologia Perjanjian Lama sembari menantikan penggenapannya oleh Perjanjian Baru.
II. Eskatologi Apokaliptik
Menjelang akhir zaman Perjanjian Lama, apokaliptik mulai mengganti­kan peranan nubuat. Hal ini mula-mula dapat dilihat dalam Yesaya 24-27 dan 56-66, Daniel, Yoel dan Zakharia 9-14; dan banyak kitab apokaliptik ditulis selama zaman antara Perjanjian Lama dan Per­janjian Baru. Teolog Perjanjian Lama, Von Rad, berpen­dapat bahwa pemikiran apokaliptik berasal dari tradisi hikmat, namun kebanyakan ahli Perjanjian Lama sependapat bahwa apokaliptik harus dimengerti terutama sekali sebagai perkembangan dari nubuat, walaupun mereka tidak menyangkal adanya hubungan apokaliptik dengan hikmat. Perkembangan ini pertama-tama didorong oleh kekecewaan yang dialami oleh orang-orang Yehuda yang pulang dari pembuangan ke tanah perjanjian. Mereka pulang dengan harapan-harapan besar, namun kemudian mereka menyadari bahwa negeri mereka tetap dijajah oleh kekuasaan asing dan hampir tidak mungkin menjadi negara yang merdeka kembali. Provinsi Yehuda dalam kemaharajaan Persia hanya tinggal bayangan kejayaan kerajaan Israel dulu. Keadaan ini sangat mengecewa­kan mereka yang mengandalkan janji-janji Allah tentang pemulihan yang gilang-gemilang. Bagaimana eskatologi para nabi dapat disejajarkan bahkan dihidupi dengan kenyataan hidup yang pahit sesudah pembuangan? Masalah ini dipecahkan oleh para pelihat yang mampu memandang (melampaui sejarah) kepada suatu zaman keselamatan yang baru, yang akan diprakarsai Allah. Dengan demikian, ada kecenderungan ke arah Transendentalisme (pandangan bahwa penggenapan akhir dari rencana Allah akan terjadi di luar sejarah dunia ini) dan dualisme (pandangan yang mempertentangkan zaman ini dengan zaman yang akan datang). Dua ciri eskatologi apokaliptik ini yang patut diperhatikan secara khusus ialah tokoh "Anak Manusia" (Daniel 7) dan gambaran tentang ke­bangkitan orang mati (Yes. 26:19; Dan. 12). Kedua-duanya menjadi sangat penting dalam pemikiran Yahudi dan Kekristenan pada kemudian hari.
Akhirnya…
Dari penjabaran di atas, jelas kita melihat bahwa Perjanjian Lama juga memiliki konsentrasi atas pengharapan manusia (Israel) terhadap kehidupannya dan begitu pentingnya pengharapan akan masa depan sebagai teologia Perjanjian Lama. Namun, perlu digaris bawahi bahwa berpegangan hanya pada Perjanjian Lama saja tidak lengkap, karena masih menantikan karya Allah yang akan melengkapinya. Penggenapan ini akan dilakukan oleh Allah yang sama dalam konteks sejarah yang sama seperti karya Allah yang dikumandangkan dalam Per­janjian Lama. Di dalam tulisan-tulisan apokaliptik menjadi jelas bahwa sejarah yang diarahkan oleh Allah ini tidak terbatas kepada sejarah Israel, ataupun sejarah dunia ini. Ada harapan bahwa karya yang baru itu dari segi tertentu akan sejalan dengan karya sebelum­nya, kendati pada saat yang sama juga berbeda secara radikal dan lebih lengkap. Jadi, Perjanjian Lama menantikan masa depan; dan dalam pemahaman Kristen Perjanjian Lama menanti-nantikan Perjanjian Baru.
Demikianlah kehadiran kita saat ini, setelah 365 hari, 52 minggu dan 12 bulan kita jalani dengan berbagai hal yang menjadi isi dari ruang dan waktu yang sebisa mungkin kita hidupi akhirnya tiba pada sebuah penghujung, 2009 akan berakhir denga pelbagai keberhasilan dan kegagalannya. Terlepas seberapa banyak pengharapan kita sejak menginjakkan kaki di awal 2009 dengan jawaban atau penggenapannya, akhirnya akan kita akhiri. Saudara, riwayat Perjanjian Lama di atas tentang pengharapan bangsa Israel, jelas memberi kita pengajaran akan bagaimana pengharapan itu hadir dan digenapi. Semua semata-mata hanya karena izin dari Allah yang punya rencana dan yang juga membawa kita untuk mencapai tujuan yang stelah ditetapkanNya bagi setiap manusia. "Bahwa sejarah bergerak dengan tujuan tertentu yang ditentukan oleh Allah, dan Allah berkarya dalam sejarah untuk memasti­kan tujuan tersebut"; demikianlah kita akan menapaki tahun 2010, dimana waktu terus melaju tanpa pernah berhenti untuk menunggu kita, siap atau tidak kita harus terlibat di dalamnya untuk bersama dengan dunia hadir dengan eksistensi kita masing-masing. Jika, kita percaya bahwa Tuhan yang menggerakkan sejarah waktu, maka percayakanlah setiap kehidupan kita kepadaNya dalam berbagai tantangan, kesempatan, hambatan dan peluang yang telah dipersiapkan bagi kita di tahun 2010 ini. Dari empat pengharapan para nabi, kita sudah menikmati dua diantaranya yakni hari Tuhan dan kehadiran Mesias, Kristus Yesus dengan perdamaianNya; pastinya kita juga mengharapkan pemulihan dan pemenuhan kebendaan atas hari-hari kita (kesejahteraan perekonomian misalnya), sesuatu yang wajar untuk kita idamidamkan. Akan tetapi, mari jadikan pembaharuan rohani menjadi pondasi penggenapannya, dengan demikian kita akan dimampukan untuk merasakan kehadiran campurtanganNya dalam setiap dimensi kehidupan kita. Yohanes mengingatkan kita dalam pasal 6:27 “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." Dan, Lukas dalam pasal 7:24-27 mengajarkan bagaimana kita memasuki tahun 2010 dengan pondasi yang semestinya, "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." Akhirnya, bukankah Paulus mengingatkan kita lewat suratnya kepada jemaat Korintus dalam 1 Kor. 3:10-23 untuk mempersiapkan dasar dari bangunan yang akan kita dirikan di tahun 2010 ini “ …tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun…seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus…Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api. Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat. Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia, sebab segala sesuatu adalah milikmu…”. Semoga!
Bahan bacaan:
1) L. Baker David, Satu Alkitab Dua Perjanjian, Jakarta: BPK-GM, 2001;
2) Rad, G. Von, The origin of the concept of the Day of Yahweh, Journal of Semitic Studies;
3) Barth, C., Theologia Perjanjian Lama 1, Jakarta: BPK-GM, 2004;
4) Agustinus Gianto, SJ., Dag-dig-dug Byarr (Kumpulan Ulasan Injil), Yogyakarta: Kanisius, 2004

READ MORE - PONDASI DAN PENGHARAPAN UNTUK TAHUN 2010

Saturday, December 26, 2009

MENGALAHKAN atau DIKALAHKAN DUNIA?

0 comments
PNB HKI SIMALINGKAR: 
AUTHORITY OF MY WORLD 
(1 YOHANES 5:4)
“sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. 
Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.


LATAR BELAKANG
Lima kitab dalam PB ditulis oleh Yohanes: sebuah Injil, tiga buah surat dan kitab Wahyu. Walaupun Yohanes tidak memperkenalkan dirinya dengan menyebut namanya di surat ini, saksi-saksi dari abad kedua (mis. Papias, Ireneus, Tertullianus, Klemens dari Aleksandria) menegaskan bahwa surat ini ditulis oleh rasul Yohanes, salah seorang dari dua belas murid Yesus. Kesamaan kuat dalam gaya penulisan, kosakata, dan tema di antara surat ini dengan Injil Yohanes memperkuat kesaksian kekristenan mula-mula yang dapat diandalkan bahwa kedua kitab ini ditulis oleh rasul Yohanes. Penerima surat ini tidak disebutkan. Tidak ada salam atau nama orang, tempat, atau peristiwa di dalam surat ini. Penjelasan yang paling tepat untuk menerangkan kenyataan yang agak aneh ini ialah bahwa dari tempat tinggalnya di Efesus, Yohanes menulis surat yang sama kepada berbagai gereja di propinsi Asia yang berada di bawah tanggung jawab rasulinya (Why 1:11). Karena jemaat-jemaat itu mempunyai persoalan dan kebutuhan yang sama, Yohanes menulis surat ini sebagai sebuah surat edaran dan mengutus utusan pribadinya yang membawa salamnya secara lisan.

Persoalan yang paling menonjol yang melatarbelakangi penulisan surat ini ialah ajaran palsu mengenai keselamatan dalam Kristus dan cara bekerjanya di dalam diri orang percaya. Beberapa orang, yang dahulu merupakan bagian dari sidang pembaca, kini sudah meninggalkan persekutuan jemaat (1Yoh 2:19), tetapi hasil dari ajaran palsu mereka masih memutarbalikkan Injil mengenai bagaimana mereka bisa "mengetahui" bahwa mereka mempunyai hidup kekal. Dari segi doktrin, ajaran sesat mereka menyangkal bahwa Yesus itulah Kristus (1Yoh 2:22; bd. 1Yoh 5:1) atau bahwa Kristus menjelma menjadi manusia (1Yoh 4:2-3); dari segi etika, mereka mengajarkan bahwa menaati perintah Kristus (1Yoh 2:3-4; 1Yoh 5:3) dan hidup kudus dan terpisah dari dosa (1Yoh 3:7-12) dan dari dunia (1Yoh 2:15-17) tidak diperlukan untuk iman yang menyelamatkan (bd. 1Yoh 1:6; 1Yoh 5:4-5).

ALAMAT SURAT
Surat pertama tidak tertera alamat yang dituju sama sekali dan tidak ditujukan kepada pihak tertentu. Tampaknya surat ini merupakan surat edaran yang ditulis untuk sejumlah gereja yang sedang menghadapi masalah yang sama. Surat yang kedua ditujukan kepada 'seorang ibu yang terpilih' (2Yoh. 1), dan pendapat yang paling lazim adalah surat ini diberikan kepada seorang ibu Kristen yang anak-anaknya juga hidup dalam kebenaran (2 Yoh. 4). Namun demikian, beberapa orang berpendapat bahwa ini merupakan cara Yohanes berbicara tentang suatu gereja. Surat ketiga ditujukan kepada seorang teman yang bernama Gayus, seseorang yang sedang melakukan suatu pekerjaan istimewa mengatur dan memelihara para pekerja Kristen (3 Yoh. 5-8).

MASALAH YANG DIHADAPI
Terdapat dua masalah sekaligus. Seperti jemaat Kristen lainnya, mereka diwabahi oleh guru-guru palsu yang menggiring banyak orang ke jalan sesat. Akibatnya, iman Kristen sejati diguncangkan. Bagaimana mereka dapat memastikan bahwa mereka benar-benar Kristen? Bagaimana mereka dapat memberitakan kebenaran dari kesalahan? Rupanya para guru palsu, dan juga seperti yang dilakukan banyak guru lainnya, menolak ajaran para rasul yang menandaskan bahwa Yesus adalah benar-benar Allah dan benar-benar manusia. Masa kini kita terbiasa dengan orang-orang yang mengatakan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa. Anehnya, pada masa itu mereka mempertanyakan apakah Ia sungguh-sungguh manusia. Banyak orang sulit untuk mempercayai bahwa Anak Allah dapat benar-benar hidup di antara kita dalam tubuh manusia. Yohanes mengatakan bahwa pada saat Anda mulai merendahkan Yesus dengan cara apa pun juga, Anda akan kehilangan kabar gembira itu sama sekali.


TUJUAN
Maksud Yohanes dalam menulis surat ini adalah dua:
  1. Untuk membeberkan dan menyangkal doktrin dan etika yang salah dari para guru palsu 
  2. Untuk menasihati anak-anak rohaninya agar mengejar suatu kehidupan persekutuan yang kudus dengan Allah dalam kebenaran, dalam sukacita penuh (1Yoh 1:4) dan kepastian (1Yoh 5:13) hidup kekal, melalui iman yang taat kepada Yesus sebagai Putra Allah (1Yoh 4:15; 1Yoh 5:3-5,12), dan dengan kehadiran Roh Kudus (1Yoh 2:20; 1Yoh 4:4,13). Beberapa orang percaya bahwa surat ini juga ditulis untuk menemani Injil Yohanes.
CIRI-CIRI KHAS
Lima ciri utama menandai surat ini.
  1. Surat ini mendefinisikan kehidupan Kristen dengan memakai istilah yang bertentangan dan dengan seakan-akan tidak memberikan peluang kompromi di antara terang dan gelap, kebenaran dan kebohongan, kebenaran dan dosa, kasih dan kebencian, mengasihi Allah dan mengasihi dunia, anak-anak Allah dan anak-anak setan (dualisme). 
  2. Yang penting, surat ini merupakan satu-satunya kitab PB yang berbicara mengenai Yesus sebagai pengantara (Yun. _parakletos_) kita dengan Bapa pada saat kita sebagai orang yang sungguh percaya berbuat dosa (1Yoh 2:1-2; bd. Yoh 14:16-17,26; Yoh 15:26; Yoh 16:7-8). 
  3. Berita yang disampaikan surat ini didasarkan hampir seluruhnya pada kesaksian rasuli dan bukan pada penyataan PL dahulu; petunjuk kepada PL jelas tidak ada. 
  4. Karena surat ini menyampaikan Kristologi berhubungan dengan penyangkalan suatu bentuk ajaran sesat tertentu, maka itu berfokus pada penjelamaan dan darah (yaitu, salib) Yesus tanpa menyebutkan kebangkitan-Nya secara khusus. 
  5. Gaya penulisannya sederhana dan berulang sewaktu Yohanes membahas berbagai istilah seperti "terang", "kebenaran", "percaya", "tetap tinggal", "mengenal", "mengasihi", "kebenaran", "kesaksian", "lahir dari Allah", dan "hidup kekal".

KAJIAN NATS 
  1. MENGALAHKAN DUNIA (nik ah'o: akan mengalahkan, menaklukkan, mengatasi, menang atas): menaklukkan dunia; nilai-nilai sekular yang tidak humanis, cara-cara yang fasik dan materialistis, mementingkan diri sendir (Lih. 2 Tim. 3: 1-9), yang menjadikan dunia tidak lagi beradab dan penuh kenajisan di hadapan Tuhan. Berhasil mengatasinya berarti juga Menang dengan penuh wibawa dan kuasa, layaknya seorang pemenang (Wahyu 2:7). 
  2. Pertanyaanya adalah bagaimana caranya? Hanya dengan IMAN. Iman (pis'tis: kekuatan iman - Rm 14.22-23; bukti - Kis 17:31) yang mengalahkan dunia adalah iman yang melihat realitas abadi, mengalami kuasa Allah dan kasih Kristus sedemikian. Percaya pada Yesus adalah pekerjaan Allah bukan hanya keputusan manusia. Ketika manusia percaya pada Yesus, saat itu ia dilahirkan dari Allah. Dilahirkan menjadi anak-anak Allah berarti dipersilakan masuk ke dalam relasi kasih. Relasi kasih dengan Allah melalui Yesus inilah yang mendorong kita untuk mampu mengatasi dunia. Iman kepada Yesus yang memberi kita KEKUATAN untuk mengalahkan dunia, karena duniapun telah dikalahkan oleh Yesus: Lihat Yoh 1: 12 “semua yang menerimaNya akan diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yakni mereka yang percaya” Mengapa kekuatan itu hadir? karena di dalam Kristus kita dilahirkan kembali dengan kuasa dan wibawa baru yang ditandai dengan kita telah menjadi anggota keluarga Allah (Lihat hak istimewa dari seorang anak raja yang sering dikenal dengan pangeran). 
  3. Wujud dari KEMENANGAN atas dunia adalah:
    • Kasih kepada Allah, yang mendorong kita untuk juga mengasihi sesama (manusia dan alam beserta isinya, 1 Yoh. 5:1). Mereka menjadi saudara kita di dalam Kristus, tanpa memandang ras, bahasa, budaya, strata ekonomi, atau pendidikan dan menjaga kelestarian lingkungan hidup. 
    • Kasih kepada Allah Menghasilkan ketaatan, 1 Yoh. 5:2. Ini bukanlah tentang bagaimana perasaan kita akan sebab akibat, tetapi bagaimana kita berelasi dengan Allah dan segenap ciptaanNya. Ketaatan itu adalah hidup dengan tunduk pada perintah Allah sebagai pemberian Allah untuk menunjukkan betapa baiknya kehidupan orang yang menaati Dia. Perintah itu diberikan karena Allah tahu bagaimana hidup dengan cara terbaik. MAMPUKAH? Perintah-Nya itu tidaklah berat karena ketika kita dilahirkan kembali di dalam Kristus, kita diberikan hati yang baru yaitu hati yang dipenuhi dengan keinginan untuk menyenangkan hati Allah. Jadi perintah Allah tidak akan terasa berat jika kita sungguh-sungguh mengasihi Dia. (sederhananya, bagaimana mungkin kita menyakiti hati orang yang kita cintai, benar toh? Jadi perbuatan baik dan benar yang kita lakukan meski tampak berat dan terkadang menyakitkan menjadi suatu cara untuk menunjukkan cinta kita kepadanya, tidak dengan paksaan, apalagi mengeluh dan berputus asa. Semua menjadi terasa ringan dan mudah! Maka kemenangan cinta adalah satu keluarga dengan untuk hidup bersama dalam suka dan duka). Lihat. Yoh 16: 33 “supaya kamu beroleh damai sejahtera, meski kamu menderita, sebab Aku telah mengalahkan dunia” dan Wahyu 3:21 “barang siapa menang ia akan kududukkan bersama-sama dengan Aku sebagaimana Aku juga telah menang”
REFLEKSI
Di tengah arena pertandingan, seorang harus tahu terlebih dahulu: kekuatan musuh yang dihadapi dan kekuatannya untuk menghadapi musuh. Demikian pula kita sebagai anak-anak Allah yang setiap saat hidup di kancah pertandingan dunia. Kita bersyukur karena ada yang mengontrol pertandingan ini, yakni Allah yang berdaulat mengizinkan setiap tantangan yang kita hadapi, bersama itu pula Allah memberikan kekuatan-Nya sehingga kita pasti menang. Kemenangan ini pasti karena Allah sendiri yang berperang melawan kuasa dunia. Setiap anak Allah diberi kuasa untuk menang, inilah iman kita kepada Yesus Kristus, Anak-Nya. Berbagai macam bentuk tantangan kita hadapi dalam arena pertandingan dunia, yang bertujuan meneguhkan, supaya kita mampu memperjuangkan kehidupan yang berkemenangan dalam iman.

Di tengah-tengah semaraknya perayaan Natal, tidak bisa dipungkiri bahwa kegagalan demi kegagalan oleh dosa kerap membuat kita lelah, putus harapan, dan kehilangan daya juang untuk mengambil peran sebagai pahlawan iman. Arus dunia semakin deras menentang iman kekristenan, bukan saja dari kalangan non kristen, tetapi justru dari kalangan kristen sendiri. Banyak kita temui pelajar kristen yang hidup dibawah perbudakan narkoba, tawuran, pergaulan dan seks bebas; banyak para pekerja dan pejabat kristen yang memanipulasi waktu, uang, dan jabatannya demi kepentingan diri dan golongannya; banyak kehidupan keluarga kristen yang kacau karena kurangnya keharmonisan yang berujung menghadirkan penghargaan terhadap orangtua dari anak, hingga ketidaksetiaan antar pasangan dan berakhir pada perceraian; banyak aktivis kristen yang menjadi batu sandungan; banyak hamba Tuhan yang mengejar popularitas dan kesuksesan; pemanfaatan hasil alam secara semena-mena dan tidak bertanggungjawab sehingga mengakibatkan global warming (pemanasan global), dan sebagainya.


Terbuka pada kenyataan ini kita menyadari betapa lebih beratnya perjuangan anak-anak Allah di tengah dunia sekuler. Akan kah kita sanggup bertahan dalam arus dunia yang akan semakin deras dan gencar? Sesungguhnya ini bukan pilihan apakah menghindar atau melawan, tetapi inilah konsekuensi sebagai anak-anak Allah yang memang diperhadapkan pada realitas hidup dengan penuh tantangan guna membuktikan bahwa kita benar mengasihi Allah. Sebab jaminan kepastian kemenangan sudah disediakan bagi yang mau setia melakukan perintah-perintah-Nya. Jangan mundur dan menyerah kalah sebelum perjuangan ini selesai adalah jawaban kita atas tantangan dunia, sebab di dalam Kristus kita diberikan kuasa dan wibawa untuk mengalahkan dunia, berdiri di atasnya dan menyaksikan karya Kristus nyata atas dunia. Untuk itulah, kiranya semangat Natal sebagai awal karya penebusan atas dosa-dosa manusia oleh Kristus Tuhan membawa kita pada pembenahan dan pemberdayaan diri dan komunal di dalam Kristus agar kita lebih dimampukan untuk menghadapi bianglala kehidupan ini. 
Semoga!
READ MORE - MENGALAHKAN atau DIKALAHKAN DUNIA?

ketertarikan para sobat